Dari sana, perjalanannya berlanjut. Sempat memegang posisi penting di Bahana Sekuritas, lalu melompat ke Credit Suisse Securities Indonesia sebagai Head of Equity Research. Puncaknya di sektor swasta mungkin saat ia memimpin Mandiri Sekuritas sekaligus menjadi Kepala Ekonom untuk grup besar itu.
Namun, dunia regulasi dan kebijakan rupanya lebih menarik hatinya. Pada 2010, ia beralih ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menjadi salah satu komisioner di sana. Pengalaman itu membawanya ke posisi yang lebih strategis: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dari 2013 hingga 2019.
Menariknya, selama di BI, ia sudah akrab dengan urusan OJK. Ia pernah ditugaskan sebagai anggota DK OJK ex-officio dari Bank Indonesia, sebuah peran yang membuatnya terlibat dalam mengawasi sinergi antara dua otoritas keuangan terbesar di negeri ini.
Setelah meninggalkan BI, ia masih berkutat di sektor yang sama. Mirza sempat menjadi Tenaga Ahli Menteri Keuangan dan memimpin Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia sebelum akhirnya terpilih ke puncak OJK.
Latar belakang pendidikannya pun solid. Ia menyandang gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan meraih gelar master dari Macquarie University di Sydney.
Kini, dengan mundurnya Mirza, satu kursi di pimpinan OJK pun kosong. Pertanyaannya, apa yang akan terjadi selanjutnya? Proses suksesi tentu akan berjalan sesuai aturan. Namun, kepergian seorang figur dengan segudang pengalaman seperti Mirza pasti meninggalkan jejak. Kita tunggu saja perkembangan berikutnya.
Artikel Terkait
BEI Perpanjang Penundaan Transaksi Short Selling hingga September 2026
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Program Mudik Gratis Pemerintah Berangkatkan 500 Pemudik dari Jakarta
BEI Tetapkan Libur Perdagangan 5 Hari Berturut-turut Maret 2026 untuk Nyepi dan Idulfitri