Secara historis, OPEC memang terkenal hati-hati. Mereka cenderung nunggu dulu sampai ada dampak nyata terhadap pasokan, baru bertindak. Sikap itu terlihat lagi sekarang, meski harga di London sempat sentuh USD 70,35 per barel level tertinggi sejak September lalu.
Kebijakan jeda produksi ini sendiri awalnya disepakati November lalu. Tujuannya sederhana: mengantisipasi perlambatan musiman permintaan bahan bakar. Sebelumnya, delapan negara anggota sempat agresif naikin produksi buat rebut kembali pangsa pasar dari produsen non-OPEC, terutama minyak serpih AS.
Meski begitu, prospek ke depan masih suram. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan potensi surplus pasokan, sementara permintaan global justru melambat. Di sisi lain, produksi dari negara-negara non-OPEC seperti AS, Brasil, Kanada, dan Guyana malah terus meningkat.
Beberapa lembaga keuangan besar, termasuk JPMorgan Chase & Co. dan Morgan Stanley, punya penilaian serupa. Menurut mereka, OPEC kemungkinan perlu memangkas produksi lebih dalam lagi. Tujuannya, biar harga nggak terjun bebas.
Tekanan ini makin terasa setelah harga minyak anjlok 18 persen sepanjang tahun lalu. Jatuhnya harga itu sempat memukul kondisi fiskal sejumlah negara anggota. Arab Saudi, contohnya, sampai terpaksa memangkas belanja proyek strategis dan cari-cari sumber pendanaan alternatif. Situasinya nggak mudah.
Artikel Terkait
BEI Perpanjang Penundaan Transaksi Short Selling hingga September 2026
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Program Mudik Gratis Pemerintah Berangkatkan 500 Pemudik dari Jakarta
BEI Tetapkan Libur Perdagangan 5 Hari Berturut-turut Maret 2026 untuk Nyepi dan Idulfitri