Harga minyak dunia tiba-tiba meroket. Ini terjadi Kamis kemarin, dan sentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Pasar tampaknya mulai khawatir, terutama karena ketegangan antara AS dan Iran yang memanas lagi. Kalau situasi memburuk, pasokan global bisa terganggu.
Minyak mentah Brent naik cukup signifikan, USD 2,31 atau sekitar 3,4 persen, dan ditutup di angka USD 70,71 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga ikut naik USD 2,21, menguat 3,5 persen ke posisi USD 65,42. Data ini dikutip dari Reuters, Jumat (30/1).
Lonjakan ini nggak lepas dari peringatan keras Presiden AS Donald Trump ke Iran. Intinya, dia minta Iran segera capai kesepakatan nuklir atau bersiap menghadapi kemungkinan serangan militer. Nah, Iran kan salah satu produsen besar di OPEC. Jadi wajar saja kalau eskalasi konflik bikin investor cemas dan harga langsung terdongkrak.
Di tengah reli harga ini, ada kabar dari Bloomberg soal OPEC . Mereka diperkirakan bakal tetap patuh pada kebijakan jeda produksi yang udah disepakati untuk kuartal pertama tahun ini. Rencananya, delapan negara anggota yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia bakal ketemu virtual Minggu (1/2) buat tinjau kebijakan pasokan bulan Maret.
Beberapa delegasi yang diwawancarai bilang, sejauh ini aliansi itu masih berencana mengonfirmasi kebijakan yang ada.
Tapi mereka juga kasih isyarat. Kalau gangguan pasokan benar-benar signifikan, OPEC mungkin terpaksa ambil langkah penyesuaian. Jadi, ada ruang untuk manuver.
Artikel Terkait
DSSA Pecah Saham, Harga Rp94 Ribu Bakal Ditekan ke Rp3.750
DSSA Pecah Saham Demi Tarik Investor Ritel, Harga Bakal Terjun ke Rp3.750
DSSA Siap Pecah Saham, Harga Rp94 Ribu Bakal Terjun ke Rp3.750
Direktur Utama BEI Lengser Usai Trading Halt Dua Hari Berturut-turut