Pasar saham kita sempat berhenti total hari Kamis kemarin. Ya, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa mengambil langkah ekstrem: memberlakukan trading halt atau pembekuan perdagangan sementara. Pemicunya? Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas hampir 8 persen, terlempar ke level 7.654,66. Situasinya cukup mencekam di menit-menit awal perdagangan.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Menurut BEI, langkah itu diambil demi menjaga agar transaksi di bursa tetap berjalan tertib, wajar, dan efisien. Mereka mengacu pada aturan main yang sudah baku, yaitu Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas. Rinciannya ada di Surat Keputusan Direksi BEI yang terbit tahun lalu.
Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan BEI, memberikan konfirmasi resmi.
“Hari ini, Kamis, 29 Januari 2026, telah dilakukan tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09:26:01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).”
Dia lalu menambahkan,
“Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 09:56:01 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan.”
Jadi, jedanya hanya sekitar setengah jam. Tapi dalam dunia pasar modal yang serba cepat, tiga puluh menit itu terasa lama sekali. Trading halt semacam ini sebenarnya mekanisme pengaman. Fungsinya memberi jeda bagi pasar untuk bernapas sejenak saat volatilitas ekstrem melanda, mencegah kepanikan yang lebih dalam.
Setelah jeda, aktivitas perdagangan pun kembali berdenyut sesuai jadwal. Meski begitu, guncangan pagi itu pasti meninggalkan kesan mendalam bagi para pelaku pasar. Mereka kini menunggu, apakah langkah ini cukup untuk meredam gejolak lebih lanjut atau hanya jeda sejenak sebelum badai berikutnya.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020