“Pertamina mendukung sepenuhnya arahan Danantara tersebut. Langkah ini sangat penting mengingat Pertamina memiliki portofolio perusahaan yang luas dan tersebar di berbagai jenis usaha, sehingga diperlukan penataan ulang,” kata Agung pada Rabu, 19 November 2025.
Intinya, program streamlining ini bertujuan agar Pertamina bisa lebih fokus. Fokus pada bisnis intinya di sektor migas, pengolahan kilang, distribusi energi, hingga pengembangan energi baru dan terbarukan. Jadi, bukan sekadar merger biasa.
Nah, integrasi tiga sektor bisnis commercial and trading, kilang, dan logistik kelautan merupakan salah satu wujud konkretnya. Ketiganya punya peran krusial: menyediakan energi untuk masyarakat. Dengan disatukan, efisiensi dan sinergi diharapkan bisa jauh lebih maksimal.
Memang, proses rasionalisasi BUMN yang digulirkan Danantara Indonesia masih panjang. Saat ini, entitas BUMN masih berkisar seribuan. Tapi, langkah Pertamia ini bisa dibilang salah satu yang paling banyak disorot, mengingat skala dan dampaknya yang begitu besar.
Artikel Terkait
Guncangan di Pucuk Pimpinan: Tiga Petinggi Mundur, Chandra Asri Lakukan Restrukturisasi
Groundbreaking Peternakan Ayam Rp 20 Triliun Dimulai Awal Februari
IHSG Tergelincir 8%, Bos Danantara Desak BEI Tanggapi Laporan MSCI
Purbaya Guncang Kemenkeu, 36 Pejabat Eselon II Diganti