Jurus Jitu Menembus Banjir Rilis Pers Ala Jurnalis

- Selasa, 25 November 2025 | 18:00 WIB
Jurus Jitu Menembus Banjir Rilis Pers Ala Jurnalis
Tips Menulis Rilis Pers dari Seorang Jurnalis

Tips Menulis Rilis Pers dari Seorang Jurnalis

Bayangkan betapa sibuknya sebuah meja redaksi. Dalam sehari, bisa sampai 200 rilis berdatangan. Di tengah banjir informasi itu, editor hanya punya waktu sangat singkat, cuma 5 sampai 10 detik, untuk memutuskan mana yang layak dibaca lebih lanjut dan mana yang langsung terabaikan.

Inilah realitas yang coba dibongkar dalam sesi berbagi yang digelar Diskominfo Jabar belum lama ini. Mereka menghadirkan jurnalis kumparan, M. Rizki, untuk berbagi ilmu tentang cara menulis rilis pers yang efektif.

"Redaksi menerima 200 rilis dan waktu baca editor 5 hingga 10 detik,"

kata Rizki, mengungkapkan tekanan yang dihadapi para jurnalis setiap harinya.

Dengan waktu yang sangat terbatas itu, judul menjadi kunci utama. Itulah gerbang pertama yang menentukan nasib sebuah rilis.

"Terutama judulnya yang dibaca," tegasnya.

Lalu, apa saja yang membuat sebuah rilis gagal total dan berakhir di tempat sampah digital? Rizki membeberkan beberapa alasan utamanya. Pertama, isinya tidak punya nilai berita dan cuma berisi seremonial belaka. Kedua, tidak didukung data yang konkret, kutipannya lemah atau terlalu normatif. Ketiga, judulnya tidak jelas dan isinya terlalu bertele-tele. Keempat, foto yang disertakan tidak layak muat. Dan yang kelima, salah timing. Sudah telat.

Media Bukan Sekadar Corong

Di sisi lain, Rizki menekankan perlunya perubahan pola pikir. Perlu dipahami betul bahwa media punya prinsip sendiri. Mereka bukan corong instansi yang akan memberitakan apa pun. Media akan memilih topik yang relevan dan punya dampak bagi banyak orang.

"Yang harus dipahami adalah, media bukan corong instansi, mereka pilih yang relevan dan berdampak," ujar Rizki.

Karena itu, sebuah rilis pers yang baik harus menjawab rasa penasaran publik. Jangan malah berpusat pada keinginan instansi untuk pamer.

"Rilis harus menjawab ‘mengapa publik perlu tahu?’, bukan ‘mengapa instansi ingin mengumumkan?’," paparnya.

Intinya, nilai berita adalah segalanya. Fokuslah pada dampak yang ditimbulkan oleh suatu kebijakan atau program, bukan pada siapa pejabat yang menghadiri acara.

"Fokus pada dampak, bukan pejabat," tegasnya singkat.

Judul, Penentu Segalanya

Kembali ke soal judul. Ini benar-benar penentu. Menurut Rizki, judul jangan sampai "dipelintir" yang malah bikin salah paham. Struktur penulisannya sebaiknya mengikuti pola sederhana: siapa subjeknya, apa aksinya, dan apa dampaknya.

Hindari juga kata-kata normatif yang klise dan tidak jelas ujung pangkalnya. Sebut saja frasa seperti 'tingkatkan sinergi' atau 'tingkatkan kolaborasi'. Itu semua omong kosong bagi media. Sebaliknya, gunakan angka dan tunjukkan hasil nyata.

"Hindari kata normatif seperti ‘tingkatkan sinergi’, ‘tingkatkan kolaborasi’. Gunakan angka dan hasil," sarannya.

Aspek lain yang sering dianggap sepele adalah foto. Ini juga penentu. Foto sekumpulan orang berpose dengan latar belakang spanduk 'Jabar Istimewa' jelas kurang menarik. Bandingkan dengan foto close-up yang menangkap aksi atau emosi. Makanya, saat mengirim rilis, siapkan beberapa pilihan foto.

"Kalau cuma foto pose barengan ‘Jabar Istimewa’ kan kurang menarik, beda dengan foto-foto yang close-up action. Maka kirim foto harus beberapa alternatif," jelas Rizki.

Soal waktu pengiriman juga krusial. Rilis bisa dikirim pagi hari jika membutuhkan konteks yang lebih mendalam. Atau, kirim saat acara masih berlangsung, jangan nunggu selesai.

"Jangan saling tunggu dengan fotografer resmi," ucapnya.

Pesan terakhirnya sederhana tapi mendasar: menulislah untuk publik, bukan untuk atasan. Pembaca butuh cerita yang mengena, bukan sekadar laporan kegiatan yang kaku dan membosankan.

"Menulis untuk publik, bukan untuk atasan. Pembaca butuh cerita, bukan cuma laporan kegiatan," pungkas lulusan Jurnalistik Unpad itu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar