Wall Street menampilkan wajah yang beragam di awal sesi Selasa (27/1/2026). Sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq berhasil mencetak keuntungan, suasana hati pasar sebenarnya cukup tegang. Pasalnya, The Fed baru saja memulai rapat kebijakan dua hari yang hasilnya dinanti-nanti semua orang. Mayoritas investor memang berasumsi suku bunga bakal dipertahankan. Tapi, yang lebih mereka gubris adalah petunjuk tentang arah kebijakan ke depan, termasuk isu kepemimpinan di bank sentral AS itu.
Isu independensi The Fed sendiri kembali menghangat awal bulan ini. Pemicunya, Departemen Kehakiman membuka penyelidikan yang melibatkan sang Ketua, Jerome Powell. Situasi ini tentu menambah lapisan ketidakpastian di tengah hiruk-pikuk laporan keuangan perusahaan.
Di papan angka, pergerakannya cukup tajam. Dow Jones terpangkas 305,69 poin (0,62%) ke level 49.106,71. Di sisi lain, S&P 500 naik 13,94 poin (0,20%) ke 6.964,17. Nasdaq tampil lebih perkasa dengan kenaikan 112,68 poin atau 0,48% ke posisi 23.714,03.
Ada drama yang cukup menyita perhatian dari sektor kesehatan. Saham perusahaan asuransi anjlok setelah proposal pembayaran Medicare Advantage dari pemerintahan Trump mengecewakan pasar. Proposal itu dinilai membayangi prospek laba mereka untuk tahun 2026. Akibatnya, saham Humana dan CVS masing-masing terperosok 15,6% dan 11,9%.
Namun begitu, laporan dari emiten-emiten besar mulai berdatangan dengan cerita yang berbeda-beda. Boeing, misalnya, berhasil membukukan laba di kuartal keempat setelah sebelumnya merugi. Tapi anehnya, sahamnya malah turun 1,2%. Sebaliknya, UPS melonjak 3,4% berkat proyeksi kenaikan pendapatan untuk 2026. Pesaingnya, FedEx, ikut terdongkrak 0,4%. General Motors juga ikut meramaikan pesta dengan kenaikan 4,7% setelah laba intinya naik di kuartal terakhir tahun lalu.
Performa perusahaan kurir seperti UPS dan FedEx ini selalu jadi tolok ukur menarik. Mereka sering dianggap sebagai barometer kesehatan ekonomi AS.
Di sektor lain, maskapai penerbangan juga punya cerita sendiri. Saham American Airlines naik 3,3% setelah proyeksi laba 2026 mereka mengalahkan perkiraan analis. Tapi tidak untuk JetBlue. Sahamnya terjun 4,9% karena kerugian kuartalannya lebih buruk dari yang diperkirakan. Semua ini terjadi di saat maskapai sedang kewalahan menghadapi gelombang pembatalan penerbangan. Cuaca musim dingin yang ekstrem di Pantai Timur AS benar-benar mengacaukan jadwal.
Nah, semua mata kini tertuju ke Rabu. Tiga raksasa teknologi Meta, Microsoft, dan Tesla dijadwalkan merilis laporan keuangan mereka. Ini sekaligus menjadi penanda dimulainya musim laporan untuk kelompok "Magnificent Seven". Hasilnya bakal jadi ujian nyata: apakah reli Wall Street yang selama setahun digerakkan oleh euforia AI ini bisa bertahan?
Penguatan saham-saham besar itu sendiri telah mendorong S&P 500 dan Nasdaq ke level tertinggi dalam lebih dari seminggu pada sesi Senin.
"Pandangan kami tahun ini, pendorong kenaikan pasar akan lebih ditentukan oleh kinerja laba perusahaan, bukan ekspansi valuasi," ujar Charlie Ripley, Senior Investment Strategist di Allianz Investment Management.
Tekanan ada di pundak para emiten. Pekan ini, setidaknya 102 perusahaan anggota S&P 500 akan membuka buku mereka. Sampai Jumat lalu, data LSEG mencatat 64 perusahaan sudah melaporkan. Dan sekitar 79,7% di antaranya berhasil melampaui perkiraan laba analis. Angka yang cukup melegakan, setidaknya untuk sementara.
Artikel Terkait
Penerima PKH dan Bantuan Sembako Akan Dilebur ke Koperasi Desa Merah Putih
Emas Anjlok ke Terendah Sebulan, Kekhawatiran Inflasi dan Ketegangan Iran-Timur Tengah Kembali Meningkat
UEA Resmi Keluar dari OPEC, Fokus pada Kepentingan Nasional
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Kinerja OpenAI Tekan Saham Teknologi Jelang Rilis Laba Raksasa AS