Utang Luar Negeri Indonesia Tembus 439,8 Miliar Dolar AS per April 2026, Rasio terhadap PDB Masih Aman

- Senin, 15 Juni 2026 | 16:30 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus 439,8 Miliar Dolar AS per April 2026, Rasio terhadap PDB Masih Aman

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai 439,8 miliar dolar AS, tumbuh 1,9 persen secara tahunan. Angka pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang sebesar 1,0 persen.

Meskipun mengalami peningkatan, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap berada di level yang dinilai aman, yakni 29,6 persen. Menurut BI, kondisi ini mencerminkan bahwa pengelolaan utang luar negeri Indonesia masih berjalan dalam koridor yang sehat.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa kenaikan ULN terutama dipicu oleh pertumbuhan utang sektor publik. Sementara itu, utang luar negeri sektor swasta justru masih mengalami kontraksi.

Pada April 2026, posisi ULN pemerintah tercatat sebesar 216,4 miliar dolar AS, tumbuh 3,7 persen secara tahunan. Capaian ini sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,8 persen pada Maret 2026. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah yang tidak secepat periode sebelumnya.

Di sisi lain, minat investor asing terhadap instrumen keuangan domestik tetap terjaga. Hal ini terlihat dari aliran modal masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia masih kuat.

Pemerintah terus mengarahkan pemanfaatan utang luar negeri untuk mendukung sektor-sektor produktif sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal. Dana yang diperoleh melalui pembiayaan eksternal tersebut banyak digunakan untuk sektor kesehatan dan kegiatan sosial, yang menyerap sekitar 22 persen dari total ULN pemerintah.

Selain itu, alokasi dana utang juga diberikan untuk sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5 persen. Sektor pendidikan mendapat porsi 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.

Struktur utang pemerintah masih didominasi oleh pinjaman jangka panjang, yang porsinya mencapai hampir 100 persen dari total ULN pemerintah.

Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat sebesar 193,2 miliar dolar AS. Secara tahunan, angka ini masih mengalami kontraksi 0,7 persen, meskipun lebih baik dibandingkan penurunan 1,4 persen yang terjadi pada Maret 2026.

Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh kelompok lembaga keuangan yang mencatat kontraksi lebih rendah. Jika pada Maret penurunan mencapai 6,3 persen, pada April kontraksinya menyempit menjadi 5,0 persen.

Dilihat dari sektornya, utang luar negeri swasta paling banyak berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan. Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 79,6 persen dari total ULN swasta.

Sama seperti pemerintah, struktur utang swasta juga masih didominasi pinjaman jangka panjang dengan porsi mencapai 75,8 persen. Secara keseluruhan, komposisi utang luar negeri Indonesia masih didominasi oleh utang berjangka panjang yang mencapai 84,5 persen dari total ULN nasional.

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam memantau perkembangan utang luar negeri guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurut Ramdan, pemanfaatan ULN akan terus dioptimalkan sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan, namun tetap disertai upaya mitigasi risiko agar tidak mengganggu ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar