Gila, harga timah di pasar global benar-benar melonjak tak karuan. Data dari London Metal Exchange (LME) mencatat, pada penutupan perdagangan Jumat lalu, harganya mencapai level USD 56.816 per ton. Itu artinya naik hampir 9,5 persen dalam sehari.
Menariknya, meski produksinya tak sebesar negara lain, Indonesia disebut punya pengaruh kuat di balik gejolak ini. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM, menilai pergerakan harga tak lepas dari situasi di dalam negeri.
“Harga timah pada saat ini, saya masih meyakini bahwa harga timah saat ini adalah dari USD 33 ribu sekarang di angka USD 51 ribu itu, saya masih meyakini bahwa ini karena dari Indonesia,”
Demikian penegasan Tri Winarno, Dirjen Minerba Kementerian ESDM, dalam sebuah acara di Jakarta akhir pekan lalu. Menurutnya, produksi timah nasional saat ini berkisar 50 ribu ton per tahun.
Lalu, apa hubungannya? Ternyata, ini berkait erat dengan upaya pemberantasan penyelundupan. Tri Winarno menyebut, aktivitas pasar gelap yang dulu marak via Malaysia dan Singapura kini sudah berakhir.
“Karena selundupan yang ada di Malaysia dan ada di Singapura otomatis sekarang nggak ada sama sekali. Market gelap untuk timah itu sama sekali udah berakhirlah dengan adanya kondisi pada saat ini,” tuturnya.
Artikel Terkait
Vietnam Pacu Ekonomi Dua Digit di Bawah Kepemimpinan Baru To Lam
Eka Hospital Buka Cabang Premium di MT Haryono, Lengkapi dengan Robot Bedah Canggih
Hans Kwee Sebut IHSG Siap Tembus 10.000, Didorong Kekuatan Investor Domestik
CPO Anjlok ke Bawah 4.200 Ringgit, Aksi Ambil Untung Hentikan Reli Tiga Hari