CPO Anjlok ke Bawah 4.200 Ringgit, Aksi Ambil Untung Hentikan Reli Tiga Hari

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 12:30 WIB
CPO Anjlok ke Bawah 4.200 Ringgit, Aksi Ambil Untung Hentikan Reli Tiga Hari

Reli tiga hari berturut-turut harga minyak sawit mentah atau CPO akhirnya terhenti. Pada perdagangan Jumat lalu, harganya anjlok ke bawah level 4.200 ringgit Malaysia per ton. Aksi ambil untung dan mata uang ringgit yang menguat jadi pemicu utamanya.

Kalau dilihat datanya, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman April di bursa Malaysia ditutup di angka 4.174 ringgit per ton. Itu artinya ada penurunan sekitar 0,57 persen. Padahal, sehari sebelumnya harga sempat menyentuh level tertingginya dalam tujuh pekan. Tapi ya, pasar memang selalu berubah-ubah.

Sentimen bearish atau penurunan ini makin kuat karena dua hal. Di satu sisi, kontrak minyak sawit di bursa Dalian, China, ikut melemah. Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago juga turun. Kombinasi ini bikin trader banyak yang memilih untuk melepas posisi.

“Harga minyak sawit melemah pada perdagangan Asia seiring penurunan harga minyak mentah dan minyak kedelai,” ujar David Ng, seorang trader di Iceberg X, Kuala Lumpur.

Namun begitu, David Ng nggak pesimis. Menurutnya, harga CPO kemungkinan besar nggak akan bertahan lama di level rendah ini. Apalagi, data ekspor minyak sawit Malaysia belakangan ini justru menunjukkan tanda-tanda penguatan yang cukup menggembirakan.

Dia memperkirakan, level support untuk futures CPO ada di atas 4.100 ringgit per ton. Sementara resistance-nya bakal berada di kisaran 4.250 ringgit. Jadi, pergerakannya masih dalam koridor yang terprediksi.

Meski hari Jumat kemarin suram, secara keseluruhan pekan ini pasar masih catat kenaikan, lho. Ini sudah minggu ketiga berturut-turut harga naik, dengan penguatan lebih dari 2,53 persen. Lumayan, kan?

Kenaikan mingguan ini didorong oleh ekspektasi permintaan yang bakal melonjak. Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan di bulan Februari nanti, permintaan biasanya memang meningkat. Situasi ini diperketat lagi dengan pasokan jangka pendek yang makin menipis.

Faktor musiman bikin produksi pada Januari ini diperkirakan turun drastis, sampai 15-17 persen. Nah, di saat yang sama, permintaan justru naik. Survei pengapalan menunjukkan, ekspor pada periode 1-20 Januari melonjak 8,6 hingga 11,4 persen dibanding bulan sebelumnya. Ini jelas sinyal bagus.

Tapi jangan senang dulu. Ada bayangan panjang yang mengkhawatirkan, yaitu soal pasokan ke depannya. Indonesia sebagai produsen utama mulai memperketat pengawasan terhadap eksploitasi hutan. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi pasokan global dalam jangka panjang.

Lantas, prospek ke depan gimana? Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memprediksi harga minyak sawit pada Februari akan bergerak dalam kisaran yang cukup luas, antara 4.000 sampai 4.300 ringgit per ton. Pasar tampaknya masih akan bergejolak, dipengaruhi oleh tarik-ulur antara permintaan yang kuat dan kekhawatiran akan pasokan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar