Reli tiga hari berturut-turut harga minyak sawit mentah atau CPO akhirnya terhenti. Pada perdagangan Jumat lalu, harganya anjlok ke bawah level 4.200 ringgit Malaysia per ton. Aksi ambil untung dan mata uang ringgit yang menguat jadi pemicu utamanya.
Kalau dilihat datanya, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman April di bursa Malaysia ditutup di angka 4.174 ringgit per ton. Itu artinya ada penurunan sekitar 0,57 persen. Padahal, sehari sebelumnya harga sempat menyentuh level tertingginya dalam tujuh pekan. Tapi ya, pasar memang selalu berubah-ubah.
Sentimen bearish atau penurunan ini makin kuat karena dua hal. Di satu sisi, kontrak minyak sawit di bursa Dalian, China, ikut melemah. Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago juga turun. Kombinasi ini bikin trader banyak yang memilih untuk melepas posisi.
“Harga minyak sawit melemah pada perdagangan Asia seiring penurunan harga minyak mentah dan minyak kedelai,” ujar David Ng, seorang trader di Iceberg X, Kuala Lumpur.
Namun begitu, David Ng nggak pesimis. Menurutnya, harga CPO kemungkinan besar nggak akan bertahan lama di level rendah ini. Apalagi, data ekspor minyak sawit Malaysia belakangan ini justru menunjukkan tanda-tanda penguatan yang cukup menggembirakan.
Dia memperkirakan, level support untuk futures CPO ada di atas 4.100 ringgit per ton. Sementara resistance-nya bakal berada di kisaran 4.250 ringgit. Jadi, pergerakannya masih dalam koridor yang terprediksi.
Artikel Terkait
Vietnam Pacu Ekonomi Dua Digit di Bawah Kepemimpinan Baru To Lam
Eka Hospital Buka Cabang Premium di MT Haryono, Lengkapi dengan Robot Bedah Canggih
Hans Kwee Sebut IHSG Siap Tembus 10.000, Didorong Kekuatan Investor Domestik
Operasi Penyelundupan Timah Berakhir, Harga Global Melonjak Gila-gilaan