Hal ini disampaikan oleh para analis Goldman, termasuk Daan Struyven dan Lina Thomas.
Menurut mereka, strategi saat ini berbeda dengan lindung nilai untuk peristiwa sesaat, seperti pemilu AS. Posisi yang diambil sekarang lebih untuk mengantisipasi risiko struktural misalnya soal keberlanjutan fiskal yang sifatnya dianggap lebih "melekat" dan tidak akan cepat hilang tahun ini.
Fakta di lapangan memang kuat. Harga emas telah melonjak lebih dari 70 persen dalam 12 bulan terakhir, memecahkan rekor beruntun. Reli ini berlanjut hingga awal tahun, didorong arus modal ke aset aman. Dinamika kekuatan global yang berubah, ditambah serangan Presiden Donald Trump terhadap Federal Reserve yang menggoyang kepercayaan, turut memicu hal ini.
Di sisi lain, pembelian oleh bank sentral diperkirakan akan konsisten. Goldman memproyeksikan rata-rata 60 ton per bulan pada 2026, dengan otoritas moneter di negara berkembang kemungkinan besar terus mendiversifikasi cadangan devisa mereka ke emas.
Sementara itu, kepemilikan ETF emas di negara Barat telah bertambah sekitar 500 ton sejak awal 2025. Angka ini melampaui proyeksi yang hanya berdasar pada penurunan suku bunga AS. Goldman sendiri memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga tambahan 50 basis poin pada 2026.
Ada faktor pendorong lain yang disebut "debasement trade". Ini mencakup pembelian fisik oleh keluarga superkaya dan opsi beli oleh investor, yang muncul akibat kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal jangka panjang di negara-negara maju.
Namun begitu, bukan berarti tidak ada risiko. Goldman menilai proyeksi yang dinaikkan ini justru lebih berpeluang untuk naik lagi, jika investor swasta makin gencar mendiversifikasi portofolio. Tapi, mereka juga mengingatkan: penurunan tajam dalam persepsi risiko kebijakan global bisa memicu pelepasan posisi lindung nilai. Itu akan menjadi ancaman serius bagi harga.
Artikel Terkait
Eka Hospital Buka Cabang Premium di MT Haryono, Lengkapi dengan Robot Bedah Canggih
Hans Kwee Sebut IHSG Siap Tembus 10.000, Didorong Kekuatan Investor Domestik
Operasi Penyelundupan Timah Berakhir, Harga Global Melonjak Gila-gilaan
CPO Anjlok ke Bawah 4.200 Ringgit, Aksi Ambil Untung Hentikan Reli Tiga Hari