"Sebagian besar pasokan baru dari kontrak ini kemungkinan akan diserap untuk kebutuhan domestik," ujar Nelson Xiong, seorang analis di Kpler.
Dia memperkirakan permintaan China akan naik 6-7 juta ton, sementara India sekitar 5 juta ton. Kontrak-kontrak baru juga akan menopang angka impor mereka.
Tapi ceritanya nggak sesederhana itu. Impor China tahun 2025 memang tercatat turun. Penyebabnya beragam: permintaan industri yang lemah, tarif AS, plus pasokan gas domestik dan pipa yang kuat. Meski naik tahun ini, volume impor LNG China masih berpotensi di bawah level 2024.
Ole Dramdal dari Rystad Energy memperkirakan impor LNG China mencapai 76,5 juta ton tahun ini. Itu naik 12 persen dari 2025, seiring prioritas Beijing pada produksi dalam negeri.
Di sisi lain, ada fakta menarik. Surplus pasokan dari kontrak jangka panjang China yang disebutkan bisa lebih dari 80 juta ton per tahun, berpotongan dialihkan kembali ke pasar. Artinya, kelebihan itu bisa berputar dan mempengaruhi dinamika harga global.
Selain dua raksasa Asia itu, negara-negara seperti Turki, Malaysia, dan Taiwan juga diproyeksi meningkatkan impor. Totalnya sekitar 6,2 juta ton di 2026. Jadi, meski pasokan melimpah, pemulihan permintaan dari berbagai penjuru tampaknya siap menyambut.
Artikel Terkait
Warga Jakarta-Bekasi Diskon Tol Becakayu hingga 20 Persen Mulai Januari
BUMN Tekstil Rp101 Triliun: Harapan Baru atau Ancaman Bagi Pelaku Usaha?
Gaji Pensiun PNS 2026: Tak Ada Kenaikan Tambahan, Aturan Masih Mengacu ke 2024
Pasar Tertegang Menunggu Trump Bicara di Davos, Netflix Ikut Warna-i Sentimen