Wall Street bergerak tak menentu Rabu (21/1) waktu setempat, meski akhirnya ada sedikit penguatan. Semua mata tertuju ke Davos, tempat Presiden AS Donald Trump akan berpidato di forum ekonomi dunia. Pasar seperti menahan napas, menunggu arah kebijakan apa yang akan keluar dari mulutnya.
Di layar, pergerakan indeks beragam. Dow Jones Futures naik tipis 15 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq 100 juga catat kenaikan kecil. Angka-angka ini setidaknya memberi sedikit kelegaan, setelah pelemahan cukup dalam terjadi sehari sebelumnya. Sentimen saat itu benar-benar suram, digerus oleh ketegangan geopolitik dan ancaman perang dagang yang kembali mencuat.
Pemicu kekhawatiran itu berasal dari pernyataan Trump sendiri. Dia mengancam akan mengenakan tarif tambahan untuk beberapa negara Eropa, sebuah ancaman yang dikaitkan dengan tuntutannya atas Greenland. Ancaman itu masih menggantung, membuat suasana pasar tegang.
Namun begitu, pidato Trump di Davos pagi ini sedikit berbeda nuansanya. Ia lebih banyak menyoroti performa ekonomi AS yang menurutnya kuat, alih-alih langsung menyerang soal Greenland. Apakah ini pertanda baik?
Sayangnya, ketidakpastian belum sirna. Trump masih menyisakan ancaman tarif 10% untuk delapan negara Eropa. Bahkan, ia beri sinyal tarif bisa melonjak hingga 25% pada Juni nanti jika keinginannya tak dipenuhi. Pasar jelas tidak suka dengan ambiguitas semacam ini.
"Greenland akan menjadi tema utama hari ini dan terdapat ruang untuk deeskalasi,"
tulis analis ING dalam catatannya. Mereka agak optimistis. Pertemuan langsung antara Trump dan para pemimpin Uni Eropa di sela-sela WEF dinilai bisa meredakan panasnya situasi. Diplomasi tatap muka, seringkali lebih efektif daripada saling menyindir lewat media.
Sementara itu, investor punya hal lain untuk dicermati: musim laporan keuangan. Netflix, misalnya, baru saja merilis hasil kinerjanya. Untuk kuartal Desember, mereka cetak angka yang lebih baik dari perkiraan. Tapi proyeksi untuk kuartal pertama 2026 justru mengecewakan.
Laporan ini muncul di tengah gebrakan besar Netflix lainnya: mereka meningkatkan tawarannya untuk unit studio dan streaming Warner Bros Discovery menjadi USD72 miliar. Langkah agresif ini jelas bagian dari perang tawar-menawar dengan Paramount Skydance, memperebutkan aset yang sama. Persaingan di industri streaming semakin panas dan mahal.
Jadi, Rabu ini diwarnai oleh campuran harapan dan kecemasan. Dari pidato seorang presiden di pegunungan Swiss, hingga laporan laba-rugi perusahaan hiburan di Silicon Valley. Semuanya beradu membentuk nada pasar hari ini.
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%