Rencana pemerintah mendirikan Badan Usaha Milik Negara baru di bidang tekstil mulai mengemuka. Anggarannya pun tak main-main, disebut-sebut mencapai Rp101 triliun. Langkah ini tentu menarik perhatian, terutama bagi para pelaku industri yang selama ini bergelut di lapangan.
Menanggapi hal itu, Robby Kusumaharta, Wakil Ketua KADIN DIY yang juga eksportir tekstil, melihat peluang. Di tengah tantangan global yang makin berat, kehadiran BUMN bisa jadi penggerak. Bahkan, ia menyebutnya sebagai "figur" atau "penarik" bagi industri nasional.
Namun begitu, Robby tak lupa mengingatkan sejarah. Indonesia pernah punya beberapa BUMN tekstil, salah satunya PT Primissima di Yogyakarta yang akhirnya bangkrut tahun lalu. Menurutnya, alih-alih membangun dari nol, langkah yang lebih masuk akal adalah mengonsolidasi BUMN yang sudah ada. "Dijadikan satu holding, menjadi BUMN Tekstil, itu bisa," katanya.
Ada satu poin penting yang ia tekankan: jangan sampai BUMN baru ini justru memonopoli pasar. Ruang bagi usaha kecil dan menengah (UKM) harus tetap terlindungi. Pelaku industri di Yogyakarta rencananya akan menggelar diskusi khusus untuk merumuskan masukan terkait hal ini.
Artikel Terkait
Gelombang LNG AS dan Qatar Bakal Banjiri Pasar Global pada 2026
Gaji Pensiun PNS 2026: Tak Ada Kenaikan Tambahan, Aturan Masih Mengacu ke 2024
Pasar Tertegang Menunggu Trump Bicara di Davos, Netflix Ikut Warna-i Sentimen
Trump di Davos: Pamer Ekonomi AS dan Kritik Pedas untuk Eropa