Jakarta, Senin lalu (20/1/2026), suasana di peluncuran kolaborasi Blue Bird dan Tahilalats terasa berbeda. Bukan sekadar acara bisnis biasa, tapi lebih mirip perayaan. Bertajuk "Safe Ride, Laugh Loud", kerja sama ini jelas ingin menyentuh pasar yang selama ini mungkin belum sepenuhnya terjangkau: generasi muda.
Adrianto Djokosoetono, CEO Blue Bird, menjelaskan logika di balik langkah ini. Baginya, ini soal ekspresi identitas.
“Kolaborasi kreatif ini bagian dari upaya kami memperluas penetrasi pasar, khususnya di kalangan generasi muda. Ini jadi langkah untuk mengekspresikan identitas Blue Bird dengan cara baru yang lebih dekat dengan pelanggan, lewat cerita, visual, dan pengalaman yang berkesan,” ujarnya dalam Media Lunch di Jakarta, Selasa (21/1/2026).
Intinya, Blue Bird tak mau hanya dikenal sebagai penyedia taksi yang terpercaya. Mereka ingin tetap relevan, tanpa meninggalkan fondasi kepercayaan dan kenyamanan yang sudah dibangun puluhan tahun.
Lalu, wujudnya seperti apa? Yang paling langsung terlihat adalah merchandise edisi terbatas. Visual khas Tahilalats yang playful dipadukan dengan identitas Blue Bird, menghiasi beragam produk keseharian. Mulai dari tumbler, t-shirt, sampai tas lipat. Untuk mendapatkannya, pelanggan bisa menukarkan EZPoints lewat aplikasi MyBluebird.
Namun begitu, yang paling menarik perhatian mungkin adalah kehadiran Bus BirdGembira. Ini adalah armada Bigbird yang ditransformasi total dengan nuansa visual Tahilalats. Bus ini nggak cuma untuk dinaiki, tapi dirancang sebagai ruang interaktif. Ada kuis berhadiah, area foto yang instagramable, dan tentu saja penjualan merchandise kolaborasi.
Bus ini rencananya akan berkeliling. Menurut rencana, ia akan mangkal di Pintu B Stasiun MRT Dukuh Atas pada 24-25 Januari dan 31 Januari–1 Februari 2026. Setelah itu, berpindah ke ajang IIMS di JIExpo Kemayoran sepanjang 5-15 Februari 2026.
Di sisi lain, Monita Moerdani, CMO Blue Bird, punya penekanan lain. Baginya, kolaborasi ini berangkat dari kesamaan nilai.
“Bersama Tahilalats, kami menerjemahkan cerita perjalanan dan nilai Blue Bird ke dalam berbagai bentuk pengalaman yang bisa menjadi bagian dari momen kebahagiaan masyarakat,” jelas Monita.
Pendapat serupa datang dari pihak Tahilalats. Rakhman Azhari, Co-Founder brand lokal itu, melihat kolaborasi ini sebagai pintu yang lebih luas.
“Melalui karya orisinil yang kami hadirkan bersama Blue Bird, kami ingin menunjukkan bahwa kreativitas dan talenta lokal punya ruang besar untuk tampil modern dan relevan,” kata Rakhman.
Jadi, ini lebih dari sekadar jualan kaos atau menghias bus. Langkah Blue Bird ini adalah upaya untuk tetap hidup dalam percakapan sehari-hari masyarakat, terutama anak muda, dengan bahasa yang mereka pahami. Sebuah langkah segar yang patut ditunggu hasilnya.
Artikel Terkait
TGUK Raup Pendapatan Rp200,7 Miliar di Kuartal I-2026 Berkat Diversifikasi ke Bisnis Daging dan Frozen Food
Rupiah Terperosok ke Rp18.187 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Data AS
Harga CPO Menguat Ditopang Ekspektasi Penurunan Produksi, Ketidakpastian B50 dan Aturan Ekspor Jadi Penghambat
Saham Chandra Asri (TPIA) Melonjak 13 Persen di Tengah IHSG Merah, Dipicu Technical Rebound dan Aksi Divestasi SCG Chemicals