Rupiah ditutup sedikit melemah pada Selasa sore, tepatnya di angka Rp16.956 per dolar AS. Pelemahan tipis ini, sekitar 0,01 persen, terjadi di tengah sentimen pasar yang masih diliputi ketidakpastian global.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, ada faktor eksternal yang cukup signifikan memberi tekanan. Sentimen itu datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump soal Greenland. Dalam sebuah wawancara dengan NBC News, Trump tetap mempertahankan tuntutannya atas wilayah itu dan enggan mengklarifikasi apakah akan mengerahkan militer.
"Kekhawatiran akan intervensi militer AS meningkat pada bulan Januari setelah Washington melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Ia menambahkan, "Trump kini menuju Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana presiden AS kemungkinan akan bertemu dengan beberapa pemimpin Eropa."
Belum reda soal itu, ancaman perang dagang juga kembali menghantui. Akhir pekan lalu, Trump mengumumkan bakal mengenakan bea tambahan 10 persen untuk impor dari sejumlah negara Eropa mulai 1 Februari. Tarif itu bahkan bisa melonjak jadi 25 persen di bulan Juni jika masalah Greenland tak kunjung selesai. Negara-negara yang kena imbas antara lain Denmark, Norwegia, Jerman, Prancis, dan Inggris.
Di sisi lain, harapan pasar untuk penurunan suku bunga The Fed makin redup. Kondisi ketenagakerjaan AS yang terlihat stabil membuat banyak analis yakin bank sentral AS akan menghentikan pelonggaran moneter pada pertemuan akhir Januari ini. Alat pantau CME FedWatch menunjukkan, probabilitas suku bunga turun hanya sekitar 5 persen. Angka yang sangat kecil.
Namun begitu, dari dalam negeri justru ada kabar yang cukup menggembirakan. IMF baru saja merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027 ke atas. Lembaga itu memprediksi ekonomi kita akan tumbuh 5,1 persen pada dua tahun tersebut, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 di angka 5 persen.
Revisi ini naik 0,2 poin untuk 2026 dan 0,1 poin untuk 2027 dibanding proyeksi Oktober lalu. Tampaknya, revisi ini sejalan dengan perbaikan prospek ekonomi global yang juga dinaikkan IMF menjadi 3,3 persen untuk 2026.
IMF sendiri tak menjelaskan secara rinci soal Indonesia. Tapi secara global, mereka menilai ketahanan ekonomi saat ini masih ditopang oleh stimulus fiskal yang gencar dan kebijakan moneter yang akomodatif. Dua faktor itu dinilai mampu mengimbangi risiko dari konflik geopolitik dan lesunya perdagangan dunia.
Yang patut dicatat, prospek 5,1 persen itu masih tergolong cepat dibanding banyak negara. Dalam daftar 30 negara pilihan IMF, Indonesia hanya kalah dari Filipina yang diproyeksi tumbuh 5,6 persen (2026) dan 5,8 persen (2027), serta India yang konsisten di 6,4 persen.
Proyeksi Bank Dunia pun tak jauh berbeda. Mereka memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan terjaga di 5,1 persen pada 2026, sebelum naik tipis ke 5,2 persen di tahun berikutnya.
"Terjaganya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia itu menurut Bank Dunia disebabkan efek kucuran stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah sejak 2025, ditambah dengan investasi yang akan terus dimotori pemerintah," jelas Ibrahim.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tadi, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Untuk perdagangan selanjutnya, ia memprediksi mata uang kita berpotensi melemah lagi, bergerak dalam rentang Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
Artikel Terkait
IHSG Ditutup Melemah ke 7.095, Mayoritas Sektor Tertekan
IHSG Merosot Tujuh Hari Beruntun, Tertekan Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing
Harga Aluminium Anjlok Akibat Harapan Baru Negosiasi Damai AS-Iran
MNC Digital Entertainment Ajukan Pencatatan Saham Sekunder di Bursa Hong Kong