Manufaktur Indonesia Tutup 2025 dengan Ekspansi, Optimisme Menggelora ke 2026

- Selasa, 20 Januari 2026 | 09:12 WIB
Manufaktur Indonesia Tutup 2025 dengan Ekspansi, Optimisme Menggelora ke 2026

Industri manufaktur Indonesia ternyata masih menunjukkan taringnya di penghujung 2025. Data terbaru dari Bank Indonesia mengungkapkan, sektor pengolahan dalam negeri mengalami ekspansi pada kuartal keempat tahun lalu. Indikator utamanya, Prompt Manufacturing Index (PMI) BI, berhasil mencetak angka 51,86 persen.

Angka itu sedikit lebih menggembirakan dibanding capaian kuartal III, yang berada di level 51,66 persen. Ternyata, kenaikan ini bukan tanpa sebab. Dari dalam, peningkatan PMI-BI didorong oleh membaiknya beberapa komponen kunci. Volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan, semuanya menunjukkan tren positif.

Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, membeberkan rinciannya. Menurutnya, ekspansi ini cukup merata. Mayoritas sub-lapangan usaha juga ikut bertumbuh.

“Perkembangan tersebut sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang mengindikasikan kinerja kegiatan LU Industri Pengolahan tetap kuat dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,18 persen,”

Demikian penjelasan Denny dalam keterangan tertulis yang dirilis Selasa (20/1) lalu.

Lalu, siapa saja pemain utamanya? Indeks tertinggi tercatat di industri kertas dan barang dari kertas, percetakan, barang galian bukan logam, serta yang tak pernah padam: industri makanan dan minuman. Sektor-sektor ini jadi penyokong utama.

Yang menarik, optimisme ini tampaknya akan terbawa ke tahun depan. Bank Indonesia memproyeksikan kinerja industri pengolahan pada kuartal I 2026 justru akan semakin kuat. PMI-BI diprakirakan melonjak ke level 53,17 persen.

Pendorongnya masih serupa: total pesanan dan volume produksi yang digenjot, ditambah pergerakan persediaan barang jadi dan kecepatan penerimaan bahan baku. Proyeksi untuk sub-lapangan usahanya pun cerah. Industri kulit dan alas kaki, furnitur, logam dasar, serta tentu saja makanan dan minuman, diprediksi akan memimpin ekspansi ini.

Jadi, meski tantangan global masih membayang, sektor riil dalam negeri seperti punya tenaga cadangannya sendiri. Kita lihat saja nanti perkembangannya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar