Pasar komoditas Senin kemarin tampak seperti sedang menarik napas panjang. Setelah sepekan dihantui ketegangan geopolitik, harga minyak mentah nyaris tak bergerak. Minyak Brent cuma naik satu sen, nempel di angka USD 64,14 per barel. Sementara itu, minyak AS (WTI) untuk kontrak Februari bertahan di posisi USD 59,44.
Lalu apa yang terjadi? Ternyata, situasi di Iran mulai mereda. Kerusuhan sipil yang sempat memanas perlahan reda. Hal ini, menurut para pelaku pasar, mengurangi kemungkinan intervensi militer AS yang bisa mengacaukan pasokan minyak dari kawasan itu. Jadi, ancaman gangguan pasokan dari produsen utama itu pun berkurang. Perhatian trader pun beralih ke tempat lain, yaitu Greenland yang sedang dilanda gejolak politiknya sendiri.
Batu Bara: Naik Tipis
Di sisi lain, batu bara justru mencatatkan penguatan. Meski tipis, harganya naik 0,23 persen dan mengakhiri hari di level USD 109,10 per ton.
CPO: Hampir Tak Berubah
Nasib serupa dialami minyak kelapa sawit atau CPO. Komoditas andalan Indonesia ini cenderung stagnan. Perdagangan Senin ditutup dengan pelemahan sangat kecil, hanya 0,05 persen, sehingga harganya berada di MYR 4.069 per ton.
Nikel: Melesat Cukup Kuat
Berbeda cerita dengan logam industri. Harga nikel, misalnya, justru melonjak cukup signifikan. Pada penutupan pasar, logam ini tercatat melesat 1,79 persen, mencapai USD 18.145 per ton. Kenaikan yang cukup mencolok dibanding komoditas lainnya.
Timah: Ikut Meroket
Tak mau kalah, timah juga menunjukkan performa impresif. Logam ini bahkan naik lebih tinggi lagi, menguat 2,65 persen. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga timah akhirnya menetap di angka USD 49.258 per ton. Jadi, sementara minyak terlihat lelah, beberapa logam justru menunjukkan energi yang luar biasa.
Artikel Terkait
Petrosea Lepas Saham Kemilau Mulia Sakti Rp1,73 Triliun demi Fokus Bisnis Inti
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp329,41 Miliar dari 50% Laba Bersih 2025
Wall Street Bangkit Didorong Optimisme AI dan Laporan Keuangan Kuat
Astra Otoparts Catat Kenaikan Laba Bersih 10,6% di Kuartal I-2026