Memang, Greenland bukanlah produsen minyak. Tapi menurut Rory Johnston dari Commodity Context, sengketa politik semacam ini menciptakan suasana ‘risk-off’ alias menghindari risiko bagi investor. Buktinya, saham-saham global melemah dan dolar AS melemah terhadap mata uang safe-haven seperti yen Jepang. Semua itu imbas dari kekhawatiran perang dagang baru antara AS dan Eropa.
Di sisi lain, ada faktor cuaca yang bikin was-was. John Evans, analis PVM Oil Associates, menambahkan, pasar juga memantau risiko terhadap infrastruktur energi Rusia dan pasokan bahan bakar distilat. “Apalagi dengan cuaca dingin yang diperkirakan melanda Amerika Utara dan Eropa. Ini tambah bikin gelisah,” ujarnya.
Ke depan, tekanan terhadap harga minyak masih ada. Pasokan minyak dari Venezuela yang mengalir ke Teluk AS disebut-sebut akan meningkat. Tapi, jangan buru-buru pesimis. Phil Flynn dari Price Futures Group melihat secercah harapan dari proyeksi terbaru IMF yang optimis tentang pertumbuhan ekonomi global di tahun 2026. Itu bisa mengerek ekspektasi permintaan.
“Pada akhirnya, pasar akan terjebak dalam tarik ulur antara sentimen positif dan negatif,” kata Flynn. “Jadi, pergerakan harga kemungkinan besar akan cenderung datar-datar saja untuk sementara.”
Artikel Terkait
Harga CPO Melonjak 8% dalam Seminggu, Terbesar Sejak November 2024
Lonjakan Harga Minyak Global Gagal Dongkrak Sektor Energi di Tengah Amukan IHSG
Menkeu Tegaskan THR Karyawan Swasta Tetap Kena Pajak, Sarankan Protes ke Perusahaan
Emas Rebound di Akhir Pekan, Tapi Catat Penurunan Mingguan Pertama dalam Lima Pekan