Dari sisi kebijakan, sentimen pasar juga didukung oleh komentar dari The Fed. Wakil Ketua untuk Pengawasan, Michelle Bowman, pada Jumat lalu mengisyaratkan kewaspadaan. Ia menyebut kondisi pasar tenaga kerja yang rapuh dan berpotensi melemah dengan cepat bisa memaksa bank sentral AS untuk siap memangkas suku bunga lagi jika diperlukan.
Nah, pasar sendiri saat ini memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga dalam pertemuan akhir Januari nanti. Tapi, mereka sudah mempertimbangkan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin sepanjang tahun 2026.
Tak cuma emas, perak juga menunjukkan performa yang bahkan lebih spektakuler. Harga perak spot melonjak tajam 5 persen ke level USD94,41 per troy ons, setelah sebelumnya mencetak rekor di USD94,61. Sejak tahun baru, logam putih ini sudah naik lebih dari 32 persen angka yang cukup fantastis.
Melihat kondisi ini, analis Citi Research menyatakan mereka tetap bersikap bullish secara taktis terhadap logam mulia. Target harga mereka cukup ambisius: USD5.000 per troy ons untuk emas dan USD100 per troy ons untuk perak dalam tiga bulan ke depan. Alasan mereka sederhana: ketegangan geopolitik diperkirakan bakal tetap tinggi dalam waktu dekat.
Di sisi lain, logam mulia lainnya juga ikut merasakan imbasnya. Platinum spot naik 1,5 persen ke USD2.362,65, sementara palladium menguat 1,1 persen ke USD1.819,99 per troy ons. Semuanya bergerak hijau, menandakan sentimen positif yang meluas di sektor komoditas berharga ini.
Artikel Terkait
IHSG Tembus Rekor Baru, Tapi Tak Bertahan Lama
Analis BNI Sekuritas Soroti Level Krusial 9.100 untuk Lanjutkan Rally IHSG
Harga Emas Antam Tembus Rp 2,7 Juta per Gram, Pajak Beli Turun
Manufaktur Indonesia Tutup 2025 dengan Ekspansi, Optimisme Menggelora ke 2026