Dengan dana Rp50 miliar tadi, JRPT menargetkan bisa membeli sekitar 47,6 juta lembar saham. Meski harga maksimalnya nggak disebutin secara gamblang, kalau dilihat dari anggaran dan target jumlah saham, kira-kira harganya nggak akan lewat dari Rp1.050 per lembar.
Sebelumnya, di fase buyback Oktober 2025, perusahaan ini lebih agresif dengan menyiapkan dana Rp100 miliar. Hasilnya? Sampai 12 Januari 2026, mereka sudah membeli 22,4 juta saham JRPT. Rata-rata harganya Rp958, sehingga total dananya keluar sekitar Rp58,9 miliar. Masih ada sisa dana yang cukup banyak, ya.
Yang menarik, Yohannes memastikan langkah ini nggak akan bikin kondisi keuangan perusahaan goyah. Likuiditas aman, katanya. Malah, laba bersih per saham diproyeksikan naik sedikit, dari Rp70,07 menjadi Rp70,61, karena jumlah saham yang beredar bakal berkurang.
Di pasar, responsnya positif. Di penutupan perdagangan hari ini, saham JRPT menguat 1,4 persen ke level Rp1.065. Kalau dilihat perjalanannya sepanjang 2025, kinerja saham emiten properti asal Bintaro ini cukup gemilang, dengan penguatan hampir menyentuh 40 persen. Buyback ini kayaknya jadi sinyal kepercayaan diri manajemen, sekaligus upaya untuk menopang harga di tengah ketidakpastian.
Artikel Terkait
Analis MNC Sekuritas Soroti Empat Saham Andalan Usai IHSG Sentuh Level 9.032
Fore Coffee Habiskan Rp101 Miliar dari Dana IPO untuk Ekspansi Gerai
IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan, Ini Rekomendasi Saham Pilihan
Pemulihan Lahan Pertanian di Sumatera Dimulai, Kerugian Capai Ratusan Ribu Hektare