Wall Street kembali berwarna merah di awal sesi Rabu (14/1/2026). Sentimen pasar lesu, didorong oleh tekanan berat pada saham-saham sektor keuangan dan sikap hati-hati investor yang menunggu isyarat kebijakan dari bank sentral AS.
Indeks Dow Jones Industrial Average langsung terperosok 103,7 poin (0,21%) ke level 49.088,25 begitu bel dibuka. Pelemahan serupa terlihat di S&P 500 yang anjlok 26,3 poin (0,38%) ke 6.937,41. Sementara itu, Nasdaq Composite tak ketinggalan, turun cukup dalam 146 poin atau 0,62% ke posisi 23.563,92.
Tekanan ini sebenarnya kelanjutan dari tren negatif sehari sebelumnya. Saat itu, saham perbankan sudah jadi motor penurun. Pemicu utamanya? Rencana Presiden Donald Trump yang ingin membatasi suku bunga kartu kredit maksimal di angka 10%. Wacana itu langsung bikin kalang kabut.
Di sisi lain, ada data inflasi AS untuk Desember yang rilis sesuai ekspektasi. Kabar ini sedikit memberi angin segar, karena mempertahankan harapan bahwa The Fed masih punya ruang untuk memotong suku bunga di tahun ini. Tapi, tampaknya itu belum cukup untuk mengimbangi kekhawatiran yang lebih langsung.
Tim Ghriskey, analis dari Ingalls & Snyder, melihat tekanan pada saham keuangan ini sangat konkret.
“Mereka tertekan karena usulan batas suku bunga kartu kredit dari Trump. Jujur saja, menurut saya rencana ini akan sangat sulit diimplementasikan. Tapi, isunya sudah telanjur beredar dan membayangi pasar,” ujarnya.
Artikel Terkait
Kepemilikan KMDS Kian Tergerus, Dima Group Kini Kuasai Mayoritas Saham
Folago Siapkan Rights Issue Rp3,7 Triliun, Pengendali Siap Tebus dan Jadi Pembeli Siaga
Pemerintah Pangkas Produksi Nikel, Harga Langsung Meroket
Ari Askhara Kembali ke Panggung Utama, Kali Ini di Geladak Kapal