Cak Imin Peringatkan Ancaman Ganda Pasca-Bencana: Kemiskinan Melonjak, Kelas Menengah Menyusut

- Kamis, 15 Januari 2026 | 18:30 WIB
Cak Imin Peringatkan Ancaman Ganda Pasca-Bencana: Kemiskinan Melonjak, Kelas Menengah Menyusut

Di ruang rapat Kantor Kementerian Dalam Negeri, Kamis lalu, suasana terasa berat. Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin, menyampaikan kekhawatirannya. Pasca banjir dan longsor yang melanda Sumatera, pekerjaan rumah pemerintah ternyata tidak cuma soal rehabilitasi fisik. Ada ancaman lain yang mengintai: lonjakan angka kemiskinan.

Menurutnya, konsolidasi data yang akurat dan cepat adalah kunci sekarang. Tanpa itu, langkah penanganan bisa meleset. "Jumlah angka kemiskinan akan semakin meningkat," tegasnya.

Dia lalu memaparkan angka yang cukup menggelisahkan. Prediksinya, bencana di Sumatera itu bisa menyumbang kenaikan angka kemiskinan nasional sebesar 0,49 persen. Bahkan, untuk kemiskinan ekstrem, angkanya diprediksi naik 0,20 persen.

Namun begitu, masalahnya tak cuma soal bertambahnya orang miskin. Ada fenomena lain yang justru lebih mencemaskan.

"Aspek yang pertama, segera menangani kemiskinan baru di Sumatera. Yang kedua, yang agak mengkhawatirkan adalah turun secara drastis jumlah kelas menengah," tutur Cak Imin.

Ini persoalan serius. Penurunan kelas menengah secara nasional disebutnya terjadi secara dramatis. Artinya, bencana tak hanya mendorong orang ke bawah, tetapi juga menggerus kelompok yang seharusnya menjadi penopang ekonomi. Konsolidasi data yang tepat, harapannya, bisa menjadi peta untuk intervensi dini yang lebih fokus.

Di sisi lain, Cak Imin juga menyoroti dampak langsung bencana terhadap aktivitas ekonomi warga. Semua serba terhenti. Karena itu, anggaran pemulihan pasca-bencana harus benar-benar menyentuh pemulihan aset ekonomi masyarakat. Bukan sekadar bantuan sesaat.

"Memperbanyak uang beredar, intervensi berbasis kebutuhan masyarakat lokal atau partisipatif, bukan hanya objek bantuan," jelasnya.

Lalu, langkah konkret seperti apa yang dia usung? Program padat karya tunai atau cash for work harus jadi inti bantuan pusat. Selain itu, paket pelatihan kerja berbayar lewat APBN yang mencakup peningkatan kapasitas hingga penciptaan lapangan kerja baru juga dianggap crucial. Intinya, pemulihan ekonomi harus bergerak seiring dengan pemulihan infrastruktur.

Rapat itu pun berakhir dengan catatan panjang. Ancaman peningkatan kemiskinan dan penyusutan kelas menengah pasca-bencana kini jadi tantangan nyata. Tindakan cepat dan data yang solid menjadi harga mati.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar