Bencana yang melanda Sumatera ternyata tak hanya menyisakan duka di darat. Ribuan nelayan dan petambak kini harus menghadapi kenyataan pahit: kapal hancur, tambak rusak. Menanggapi situasi ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akhirnya angkat bicara. Mereka berjanji akan memberikan bantuan langsung kepada para korban di sektor kelautan dan perikanan.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengungkapkan skala kerusakannya cukup serius. Dari data sementara, ada sekitar 3.000 kapal nelayan dan 30.000 unit tambak yang mengalami kerusakan akibat bencana. Angka itu tentu bukan jumlah kecil.
Lalu, bantuan seperti apa yang disiapkan? Trenggono menyebut fokus utamanya ada pada perbaikan dan penggantian kapal untuk nelayan tangkap. Di sisi lain, pemulihan tambak-tambak yang rusak juga jadi prioritas.
“Kita lebih fokus ke perbaikan kapal, memberi bantuan kapal untuk nelayan yang tangkap, lalu kemudian me-recovery tambaknya yang rusak,”
ujar Trenggono saat ditemui usai acara pelepasan Taruna di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu lalu.
Soal anggaran, KKP mengaku belum bisa memastikan total dana yang harus dikucurkan. Namun, Dirjen Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu, memberi sedikit gambaran. Untuk pemulihan tambak, misalnya, dia menyebut angka patokan per hektarenya.
“Kalau tambak, yang ideal ya, 1 hektare Rp 100 juta saja, kan sudah ketahuan, kali 30.000 (tambak),”
kata Haeru. Hitungan kasar itu tentu memberikan bayangan betapa besarnya pekerjaan yang menanti.
Sebenarnya, langkah antisipasi sudah diambil KKP jauh sebelumnya. Menurut Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Pung Nugroho Saksono, satgas khusus bencana telah dibentuk sejak awal Desember tahun lalu.
“Satgas ini diharapkan memastikan seluruh penanganan bencana oleh KKP berjalan terpadu, terukur, dan dapat memberikan sumbang sih nyata bagi masyarakat terdampak khususnya masyarakat kota dan perikanan. Kita tahu bersama di Sumut banyak tambak udang dan itu rata semuanya. Inilah KKP dalam hal ini cepat bereaksi,”
jelas Pung dalam sebuah kesempatan terpisah di Pelabuhan Tanjung Priok.
Kini, semua mata tertuju pada realisasi janji itu. Nelayan dan petambak yang hidupnya bergantung pada laut dan tambak mereka, tentu hanya ingin bantuan itu segera tiba, bukan sekadar wacana di atas kertas.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar