Indikator lain, premi risiko atau CDS Indonesia untuk tenor 5 tahun, tetap bertengger di level rendah sekitar 72 bps. Ini sinyal yang cukup menggembirakan di tengah kondisi yang bergejolak.
Lalu, apa yang dilakukan BI? Bank sentral kita tak tinggal diam. Untuk meredam gejolak, mereka menjalankan strategi intervensi yang cukup komprehensif. Tidak cuma di dalam negeri, tapi juga merambah ke pasar internasional.
"Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia," jelas Erwin. Upaya itu dilakukan secara berkesinambungan lewat intervensi di pasar offshore Asia, Eropa, hingga Amerika, plus intervensi domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
Pondasi yang kokoh juga datang dari cadangan devisa. Per akhir Desember 2025, posisinya tercatat USD156,5 miliar. Jumlah ini setara dengan pembiayaan impor selama 6,4 bulan sebuah buffer yang dinilai sangat memadai untuk menghadapi guncangan dari luar.
Ke depannya, komitmen BI tetap jelas. Mereka akan terus mengoptimalkan instrumen kebijakan yang pro-pasar. Tujuannya, menjaga likuiditas dan memastikan pergerakan rupiah tidak liar, tetap sesuai dengan nilai fundamental ekonominya.
"Bank Indonesia akan terus berada di pasar," pungkas Erwin, menegaskan peran aktif mereka. Semua upaya difokuskan agar nilai tukar bergerak wajar, sesuai mekanisme pasar yang sehat.
Artikel Terkait
IHSG Terkoreksi 1,6%, Mayoritas Sektor Tertekan di Awal Pekan
BEI Jatuhkan Lebih dari 3.000 Sanksi Sepanjang 2025, Mayoritas Keterlambatan Laporan
Impor Indonesia Tembus US$21,2 Miliar di Januari 2026, Naik 18,21 Persen
Harga Emas Pegadaian Melonjak Rp38-44 Ribu per Gram Imbas Ketegangan AS-Israel-Iran