Gejolak Iran dan Serangan di Laut Hitam Pacu Harga Minyak Melonjak

- Rabu, 14 Januari 2026 | 08:20 WIB
Gejolak Iran dan Serangan di Laut Hitam Pacu Harga Minyak Melonjak

Harga minyak dunia tiba-tiba melonjak lebih dari dua persen kemarin. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar akan potensi gangguan ekspor dari Iran, yang seolah menutupi kabar baik soal kemungkinan tambahan pasokan dari Venezuela.

Di pasar, Brent crude naik 2,5 persen ke posisi USD65,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), malah lebih ganas lagi, melesat 2,8 persen ke level USD61,15 per barel.

Nah, situasi geopolitik lagi-lagi jadi biang keroknya. Menurut John Evans, analis di PVM Oil Associates, pasar mulai memasukkan premi risiko untuk faktor-faktor politik ini. "Pikiran para trader sekarang dipenuhi oleh berbagai ancaman," katanya.

Ia menyebutkan sederet masalah: mulai dari risiko ekspor Iran yang bisa terhenti, pasokan Venezuela yang bermasalah, perang Rusia-Ukraina, sampai ketertarikan aneh AS untuk membeli Greenland. Semuanya bikin pasar was-was.

Fokus utama memang pada Iran. Negara produsen minyak utama OPEC ini sedang dilanda gelombang demonstrasi besar-besaran. Aksi protes yang dipicu kematian Mahsa Amini itu disebut-sebut telah menewaskan sekitar 2.000 orang. Pemerintah Iran membalas dengan tindakan keras dan ribuan penangkapan.

Respon datang dari Washington. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras, bahkan menyiratkan kemungkinan aksi militer. Lebih dari itu, Trump mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada negara mana pun yang berbisnis dengan Tehran.

Ancaman ini langsung menohok China, yang selama ini jadi pembeli terbesar minyak mentah Iran.

Lantas, apa China akan mundur? Bob Yawger, analis Mizuho Securities di New York, punya pendapat. Menurutnya, China kemungkinan besar akan tetap membeli. Tapi, bayangkan jika mereka dan negara lain benar-benar berhenti. Pasokan global bisa menyusut drastis, sekitar 3,3 juta barel per hari hilang dari pasar. Angka yang cukup untuk menggoyang harga.

Trump tampaknya tak berhenti di situ. Melalui media sosial, ia menyemangati para pengunjuk rasa di Iran untuk "mengambil alih institusi-institusi kalian" dan mengatakan bantuan sedang di jalan. Ia juga membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran sampai aksi protes berakhir. Pernyataan-pernyataan panas inilah yang sempat mendorong kenaikan harga minyak lebih dari 3 persen, mencapai level tertinggi dalam tiga bulan.

Belum selesai dengan Iran, insiden lain muncul dari Laut Hitam. Empat kapal tanker minyak milik perusahaan Yunani dilaporkan diserang oleh drone tak dikenal. Menurut delapan sumber yang berbicara kepada Reuters, kapal-kapal itu sedang dalam perjalanan ke terminal minyak di lepas pantai Rusia.

Serangan ini makin memperketat sentimen pasokan.

Di sisi lain, analis Rystad Energy, Janiv Shah, melihat ada sedikit peluang. Kekhawatiran kelebihan pasokan untuk sementara mereda. Tapi, ia mengingatkan, tingkat pengolahan kilang di Eropa yang masih tinggi tetap membebani pasar produk turunan seperti gasoil.

Premi minyak Brent terhadap patokan Dubai juga meroket ke level tertinggi sejak Juli. Data LSEG menunjukkan ketegangan di Iran dan Venezuela jadi penyokong utama kenaikan ini.

Analis Barclays bahkan memperkirakan, gejolak di Iran telah menambahkan premi risiko sebesar USD3 hingga USD4 pada setiap barel minyak. Itu angka yang signifikan.

Namun begitu, pasar tetap mencermati kemungkinan lain. Ada angin segar dari Venezuela. Setelah lengsernya Presiden Nicolas Maduro, Trump pekan lalu menyebut Caracas siap menyerahkan minyaknya ke AS hingga 50 juta barel. Meski masih terbentur sanksi Barat, kabar ini berpotensi meredam kenaikan harga.

Yang menarik, dalam perlombaan menguasai aliran minyak Venezuela ini, perusahaan-perusahaan perdagangan minyak global disebut-sebut lebih gesit dan diuntungkan, bahkan mengalahkan raksasa energi AS sekalipun.

Jadi, pasar minyak sekali lagi terjebak dalam tarik ulur antara ketakutan akan gangguan pasokan dan harapan akan tambahan suplai. Untuk saat ini, ketakutanlah yang menang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar