"Faktor fundamental seperti itulah yang menopang daya tarik emas sebagai aset safe-haven," tambah Meger.
Secara teknis, emas spot turun 0,25% ke level USD 4.586,00 per troy ons. Padahal sebelumnya sempat sentuh rekor intraday di USD 4.634,33. Suku bunga rendah memang biasanya menguntungkan emas, aset yang tak memberi imbal hasil. Meski The Fed diperkirakan tetap bertahan di pertemuan akhir Januari, pasar sudah mengantisipasi dua kali pemotongan suku bunga sepanjang 2026.
Prospek ke depan? Commerzbank cukup optimis, mereka menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 jadi USD 4.900 per ons. Menyikapi volatilitas yang ada, CME Group juga akan menyesuaikan aturan margin untuk logam mulia.
Perak tak mau kalah. Logam ini malah meroket 2,1% ke USD 86,74 per ons, setelah sebelumnya mencatat rekor sepanjang masa di USD 89,10.
Hugo Pascal, trader logam mulia di InProved, memberi peringatan. "Indikator teknikal sih sinyalnya koreksi, tapi para pedagang masih aja milih opsi bullish untuk perak. Investor harus siap-siap dengan pergerakan balik yang tajam di tengah volatilitas tinggi ini, meski bias naik secara umum masih kuat," katanya.
Sementara itu, platinum stagnan di USD 2.343,35. Palladium justru naik 1,4% ke USD 1.868,68 per ons. Pasar logam mulia jelas masih penuh dinamika, digerakkan oleh campuran data ekonomi, politik, dan sentimen trader yang kadang sulit ditebak.
Artikel Terkait
Pemerintah Kaji Ulang Nasib Paket Ekonomi dan Program Penyerapan Tenaga Kerja
Emas Cetak Rekor, Saham Tambang Melonjak di Tengah Sentimen The Fed
Gejolak Timur Tengah dan Serbuan Dana China Picu Rekor Baru Minyak, Timah, hingga Emas
Dolar AS Menggila di Asia, The Fed Siap Diam Meski Ditekan Trump