Jadi, masa depan keenam puluh lebih anak perusahaan itu akan beragam. Opsinya banyak, mulai dari dilepas, dijual, sampai ditutup sama sekali. Namun begitu, ada juga peluang penggabungan. Terutama dengan BUMN lain di bawah payung Danantara yang punya lini bisnis serupa seperti di bidang perhotelan, kesehatan, atau asuransi. "Jadi memang ada yang tadi ya, didivest, ada yang akan dijual, ada yang akan ditutup, ada yang akan digabungkan, akan ada yang di-simplify, di-multiply. Maksudnya, akan diperbesar, di-expand," lanjut Dian menjelaskan.
Di sisi lain, langkah agresif ini punya target yang ambisius. Telkom ingin meningkatkan Total Shareholder Return (TSR) dan mendongkrak kapitalisasi pasarnya berlipat ganda pada 2030. Target itu, diakui Dian, mustahil tercapai jika masih membawa beban unit-unit bisnis yang tidak relevan atau tidak memberi nilai tambah bagi grup.
"Akan dilakukan perampingan supaya memang anak perusahaan yang dimiliki itu bergerak di dalam koridor telekomunikasi, koridor infrastruktur digital. Kami mengeliminasi hal-hal yang tidak ada hubungannya, yang tidak perlu atau yang tidak create value for the group," tegasnya.
Pada akhirnya, strategi "Telkom 30" ini adalah sebuah pernyataan. Komitmen untuk bertransformasi dari operator telekomunikasi tradisional menjadi pemain infrastruktur digital yang lebih ramping, fokus, dan bernilai tinggi. Mereka sedang memilih untuk berkonsentrasi, meninggalkan yang tak sejalan, demi lompatan besar satu dekade mendatang.
Artikel Terkait
Pemerintah Naikkan Margin Fee Bulog Jadi 7 Persen, Dukung Stabilisasi Harga Beras
Indonesia Siapkan Rp 2,1 Triliun untuk Kejar Ketertinggalan Industri Semikonduktor
Antam Luncurkan Emas Imlek Shio Kuda 2026, Terbatas dan Penuh Filosofi
Telkom Pacu Valuasi, Lepas 30% Saham InfraNexia untuk Cari Singtel Baru