"Perintah Pasal 33 adalah cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat orang banyak harus dikuasai oleh negara. Dan oleh karena itu negara harus menyiapkan,"
tegasnya.
Setelah solar, giliran avtur. Target 2027, kata Bahlil, impor bahan bakar pesawat itu harus sudah berakhir. Visi jangka panjangnya, Indonesia hanya akan mengimpor minyak mentah. Seluruh proses pengolahan dan pemenuhan kebutuhan dilakukan di dalam negeri.
"Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude (minyak mentah) saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis,"
tuturnya.
Proyek yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto ini memang bukan main-main. Investasinya mencapai USD 7,4 miliar, atau setara Rp 123 triliun. Sebuah angka fantastis.
Dampaknya langsung terlihat. Kilang Balikpapan milik Pertamina kini resmi menjadi yang terbesar di Indonesia. Kapasitas pengolahannya melonjak dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Sebuah lompatan yang signifikan.
"Tentunya saya menyambut bahagia dan sangat bangga atas peresmian hari ini, dan saya ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur, pihak, dan jajaran personalia, sehingga kita berhasil mencapai hari ini. Ini prestasi yang sangat penting bagi bangsa,"
kata Prabowo dalam sambutannya.
Suasana di Balikpapan hari itu penuh harap. Sebuah langkah besar menuju kemandirian energi, atau setidaknya, begitulah yang dijanjikan.
Artikel Terkait
Pasar Saham AS Terguncang: Ancaman Hukum ke The Fed Picu Awal Pekan Suram
Prabowo Santai Soal Tenggat, Fokus Genjot Eksplorasi Energi
Merdeka Battery Gelontorkan Rp44,37 Miliar untuk Gali Potensi Nikel Konawe
Prabowo Pacu 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 101 Triliun