Kilang Balikpapan Jadi Penopang, Impor Solar Resmi Dihentikan

- Senin, 12 Januari 2026 | 18:18 WIB
Kilang Balikpapan Jadi Penopang, Impor Solar Resmi Dihentikan

Di tengah kilang Balikpapan yang megah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan target ambisius pemerintah. Mulai tahun ini, impor solar akan dihentikan. Tak berhenti di situ, impor avtur alias bahan bakar pesawat pun ditargetkan berakhir pada 2027.

"Sementara untuk solar, tahun ini Alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden (Prabowo Subianto) maka mulai yang sekarang kita bicara ini, tidak ada lagi impor solar untuk insyaallah ke depan,"

Ucap Bahlil tegas dalam peresmian proyek RDMP Balikpapan, Senin lalu. Pernyataannya langsung menyita perhatian.

Lalu, bagaimana caranya? Bahlil membeberkan sejumlah angka. Kebutuhan solar nasional ternyata mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Namun, program biodiesel B40 dan B60 sudah membantu menopang kebutuhan itu. Belum lagi ada tambahan produksi hampir 5 juta kiloliter. Alhasil, sisa impor solar yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter kini disebut sudah tertutupi. Malah muncul surplus sekitar 1,4 juta kiloliter untuk jenis C48. Untuk solar jenis C51, impor yang tersisa tinggal 600 ribu kiloliter saja.

"Nanti di semester kedua Pertamina saya minta untuk membangun (kapasitas) agar kita tidak impor (solar lagi),"

lanjutnya.

Proyek RDMP yang baru diresmikan ini jadi kunci utama. Kapasitas produksi bakal ditingkatkan untuk berbagai jenis BBM, mulai dari RON 92, 95, hingga 98. Tujuannya jelas: memenuhi kebutuhan dalam negeri dari produksi sendiri. Ketergantungan pada impor harus diputus.

"Itu supaya kita tidak impor lagi. Supaya badan-badan usaha swasta ini beli produksi dalam negeri lewat Pertamina,"

jelas Bahlil.

Ia pun menegaskan, langkah ini bukan sekadar kebijakan teknis. Ini soal amanat konstitusi. Pasal 33 UUD 1945 menggariskan cabang produksi penting harus dikuasai negara. Dan negara, melalui proyek seperti ini, sedang berusaha memenuhi amanat itu.


Halaman:

Komentar