“Dukungan dari kidult menjadi faktor penting. Mereka ingin berbagi mainan yang mereka cintai di masa kecil dengan anak-anak mereka,” ujarnya.
Banyak dari mereka adalah orang tua yang dulu mengantre untuk mendapatkannya, dan sekarang membelinya lagi untuk buah hati mereka. Nostalgia yang diteruskan ke generasi berikut.
Namun begitu, semua fitur canggih itu ada konsekuensinya: harga. Tamagotchi Paradise dibanderol sekitar 5.800 yen, atau setara 40 dolar AS sebelum pajak. Angka itu hampir tiga kali lipat dari harga model perdana yang hanya 1.980 yen. Kenaikan biaya komponen dan teknologi menjadi penyebabnya.
Meski harganya melambung, Bandai Namco tetap optimis. Taro Tsuji, Managing Director yang juga menjabat sebagai Chief Tamagotchi Officer, percaya produk ini telah menjadi simbol yang menyatukan generasi.
“Sejak diluncurkan, Tamagotchi dicintai di seluruh dunia karena menghadirkan kegembiraan merawat dan menumbuhkan kehidupan. Kami ingin terus mengembangkan mainan ini agar tetap relevan dan menginspirasi lintas generasi dan negara,” katanya.
Momentumnya sedang tepat. Pameran khusus 30 tahun Tamagotchi yang baru dibuka untuk publik di Tokyo pekan ini diharapkan bisa terus memompa semangat nostalgia sekaligus memamerkan inovasi terbaru. Bandai berharap kombinasi itu bisa mengukuhkan posisi Tamagotchi sebagai salah satu waralaba mainan paling sukses sepanjang masa. Ternyata, merawat makhluk digital kecil itu bukan sekadar tren tapi sudah jadi bagian dari budaya pop yang abadi.
Artikel Terkait
OCBC NISP Bagikan Dividen Rp1,03 Triliun, Nilai per Saham Turun 58%
Avian Brands Bagikan Dividen Final Rp709 Miliar, Total 2026 Capai Rp1,36 Triliun
Analis Soroti Anomali: Kinerja BCA Gemilang, Harga Saham Justru Anjlok
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025