Di usianya yang ke-30, Tamagotchi justru menunjukkan geliat yang luar biasa. Mainan virtual ikonik asal Jepang itu, yang dulu menggila di era 90-an, tiba-tiba lagi laris manis. Ternyata, generasi Z punya andil besar dalam kebangkitan ini. Mereka tertarik pada barang-barang retro, dan nostalgia pun jadi bisnis yang menguntungkan.
Menurut laporan AFP News awal Januari lalu, angka penjualannya sungguh fantastis. Produsennya, Bandai Namco, mengumumkan bahwa hingga Agustus 2025, total produksi Tamagotchi telah menembus angka 100 juta unit. Bayangkan, mainan kecil itu sudah tersebar di sekitar 50 negara, termasuk Indonesia. Sejak pertama kali muncul pada 1996, sudah 37 model yang diluncurkan ke pasar.
Ini sebenarnya bukan kali pertama Tamagotchi mengalami masa jaya. Gelombang popularitasnya datang berulang. Puncak pertama terjadi tak lama setelah peluncurannya, di mana toko-toko di Jepang sampai kehabisan stok dan antrean pembeli mengular. Lalu, sekitar tahun 2004, datang gelombang kedua berkat fitur inframerah yang memungkinkan Tamagotchi 'berkomunikasi'. Delapan tahun kemudian, hadirlah versi layar berwarna yang kembali memikat penggemar.
Dan kini, gelombang keempat sedang berlangsung. Pemicunya adalah rilis model ke-37 bertajuk "Tamagotchi Paradise" pada Juli 2025. Versi terbaru ini bukan sekadar upgrade biasa. Fitur konektivitasnya memungkinkan interaksi yang jauh lebih kompleks antar-pengguna. Karakter virtualmu bisa bertarung, membangun keluarga, bahkan punya keturunan. Hal ini jelas memperkaya pengalaman bermain dan membuat orang betah lebih lama.
Tak cuma itu, ada fitur unik bernama dial zoom in/out. Dengan memutarnya, kamu bisa mengamati hewan peliharaan virtualmu dari sudut pandang yang ekstrem mulai dari skala kosmik yang luas hingga ke detail seluler yang super dekat. Langkah ini dinilai sebagai upaya Bandai untuk tetap relevan di tengah gempuran game mobile dan mainan digital lainnya.
Di sisi lain, siapa sangka kalau segmen konsumen dewasa punya peran krusial. Mereka sering disebut sebagai kidult orang dewasa yang masih suka dengan mainan bernuansa anak-anak. Miyuki Nakashima dari divisi perencanaan Bandai menjelaskan fenomena ini.
Artikel Terkait
Harga Minyak Diprediksi Tertekan hingga 2026, Baru Pulih Setelahnya
Pasar Tenaga Kerja AS Mandek, Tapi Tingkat Pengangguran Justru Menyusut
Beras untuk Rakyat 2026 Dijamin Aman, Stok Bulog Capai 3,2 Juta Ton
Iran di Ambang Perubahan: Krisis Ekonomi dan Gejolak Sosial Menggerus Fondasi Republik Islam