Faktor lain yang makin berpengaruh adalah kekhawatiran fiskal. Utang pemerintah AS dan negara maju lainnya yang membengkak bikin investor gelisah. Mereka pun lari mencari perlindungan ke emas sebuah tren yang menurut Steel kian penting.
Sementara itu, bank-bank sentral diperkirakan tetap rajin membeli emas sepanjang 2026. Motivasi mereka jelas: risiko geopolitik dan keinginan diversifikasi dari dolar AS. Meski begitu, pembeliannya mungkin tak seagresif beberapa tahun terakhir, terutama karena harganya yang sudah tinggi.
Permintaan dari investor institusional juga terlihat kuat. Pasar ETF dan over-the-counter (OTC) menyerap emas batangan dalam volume besar. Steel menilai pembelian besar-besaran oleh para pemain institusi ini masih bisa berlanjut.
Lalu, bagaimana dengan sisi pasokan? Harga tinggi rupanya mendongkrak produksi tambang dan aktivitas daur ulang. Ironisnya, di saat yang sama, permintaan fisik justru melemah. Permintaan untuk perhiasan dan koin anjlok di sejumlah pasar konsumen utama.
Stele memberikan peringatan. Jika nanti di 2026 permintaan dari investor ikut melemah, gabungan antara pasokan yang meningkat dan permintaan fisik yang lesu bisa jadi beban berat bagi harga emas ke depannya.
Artikel Terkait
BEI Catat Empat Emisi Baru, Tembus Rp216 Triliun di Awal 2026
IHSG Pacu Kembali ke Level 9.000, Transaksi Saham Melonjak 48%
IHSG Tembus 9.000, Rekor Baru dan Euforia Investor Warnai Awal 2026
Data Tenaga Kerja AS Mengejutkan, Wall Street Malah Meroket