Pasar komoditas global tampaknya lagi-lagi digoyang oleh langkah politik. Kali ini, sentimen bearish datang dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang dikabarkan bakal mengambil alih cadangan minyak Venezuela. Rencana itu, yang konon bisa mencapai 50 juta barel, langsung bikin pasar was-was. Pasokan bakal melimpah, harganya pun tertekan.
Buktinya, harga minyak mentah dunia kembali melemah di penutupan Rabu (7/1). Minyak Brent, misalnya, merosot 74 sen ke level USD 59,96 per barel. Sementara itu, acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), anjlok lebih dalam, turun USD 1,14 menjadi USD 55,99 per barel. Padahal, di sesi sebelumnya, kedua acuan ini sudah terperosok lebih dari satu dolar. Rupanya, ekspektasi pasokan berlebih sepanjang tahun ini masih jadi hantu yang menakutkan bagi trader.
Namun begitu, tidak semua komoditas bernasib sama. Di tengah tekanan pada minyak mentah, harga minyak kelapa sawit atau CPO justru menguat. Untuk kontrak Januari 2026, harganya naik 0,81 persen, mencapai MYR 3.960 per ton.
Sayangnya, tren positif itu tak berlanjut ke komoditas energi lainnya. Harga batu bara, misalnya, tercatat turun tipis 0,33 persen menjadi USD 106.90 per ton di bursa ICE Newcastle.
Pasar logam dasar juga terlihat suram. Nikel menjadi yang terpuruk, harganya di LME terjun bebas 3,40 persen ke level USD 17.895. Sentimen negatif ini sepertinya menular. Timah pun ikut-ikutan melemah, meski tak sedrastis nikel, dengan penurunan 0,46 persen menjadi USD 44.323 per ton.
Jadi, Rabu kemarin benar-benar hari yang beragam. Di satu sisi ada CPO yang merangkak naik, di sisi lain mayoritas komoditas lain masih terjebak dalam tekanan penawaran dan sentimen politik yang tak menentu.
Artikel Terkait
Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah Dua Bulan, Tertekan Konflik Iran-AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Reformasi Ekspor Komoditas Dinilai Perkuat Likuiditas Valas, Namun Perbankan Waspadai Risiko Eksekusi
Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Ditopang Sektor Kesehatan dan Konsumen
BEI Hapus 30 Waran Terstruktur dari Perdagangan per 10 Juni 2026