Belum reda kontroversi penangkapan itu, AS kembali membuat gebrakan. Pada Rabu, mereka menyita sebuah kapal tanker kosong berbendera Rusia yang dikaitkan dengan Venezuela di tengah Samudra Atlantik. Situasinya semakin panas.
Di tengah semua berita buruk itu, ada secercah data yang sedikit menopang harga. Laporan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah domestik AS turun 3,8 juta barel pekan lalu. Angka ini di luar perkiraan analis yang justru memprediksi kenaikan. Tapi, sayangnya, kabar baik itu tidak sendirian.
Stok bensin AS malah melonjak 7,7 juta barel, jauh melampaui proyeksi kenaikan. Begitu pula dengan persediaan distilat seperti solar dan minyak pemanas yang naik 5,6 juta barel. Artinya, permintaan riil mungkin tidak sekuat yang diharapkan.
Memandang ke depan, analis Morgan Stanley punya perkiraan yang suram. Mereka menyebut pasar minyak berpotensi mengalami surplus hingga 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026. Penyebabnya klasik: permintaan yang lesu tahun lalu, diiringi pasokan yang terus mengalir dari produsen OPEC dan non-OPEC.
Namun begitu, ada sudut pandang lain. Analis BMI, unit dari Fitch Solutions, melihat peluang lain dari minyak Venezuela yang berbiaya rendah. Mereka menilai, masuknya ekspor Venezuela bisa jadi justru menahan ekspansi produksi di AS dan negara lain. Selama ini, Venezuela menjual minyak Merey-nya dengan diskon sekitar USD22 per barel dibanding Brent.
Jadi, di balik tekanan jual hari ini, ada dinamika yang lebih rumit sedang berlangsung. Perang geopolitik, pergeseran pasokan, dan permintaan yang fluktuatif semuanya beradu menentukan arah harga ke depan.
Artikel Terkait
Cadangan LPG Nasional Kembali Normal Setelah Sempat Kritis
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Yield Capai 8,4%
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun
IHSG Melonjak 2,07%, Sentimen Beli Dominasi Pasar Saham