Perusahaan chip dan penyimpanan data, yang sebelumnya meroket, kini kehilangan momentum. Western Digital dan Seagate Technology tercatat merosot tajam. Begitu pula dengan First Solar, yang anjlok 10 persen setelah peringkatnya dipotong oleh analis Jefferies.
Di balik semua gejolak saham ini, ada kekhawatiran mendasar soal valuasi. Menjelang musim laporan keuangan, harga saham di Wall Street masih terbilang mahal. Indeks S&P 500 saat ini diperdagangkan sekitar 22 kali estimasi laba masih di atas rata-rata historisnya.
Data ekonomi yang dirilis Rabu memperlihatkan gambaran campur aduk. Lowongan kerja turun lebih dalam dari perkiraan, sementara penambahan pekerja di sektor swasta juga melambat. Data-data ini, meski kembali normal pasca penutupan pemerintah, tampaknya belum cukup untuk menggeser ekspektasi pasar soal potensi pemotongan suku bunga The Fed. Semua mata kini tertuju pada laporan penggajian pemerintah yang akan dirilis Jumat.
Lalu, ada lagi faktor geopolitik yang mengganggu. AS dikabarkan menyita kapal tanker berbendera Rusia yang terkait dengan Venezuela, bagian dari upaya agresif Trump mengontrol aliran minyak negara tersebut. Belum lagi isu lain: Gedung Putih mengaku Trump sedang membahas opsi untuk memperoleh Greenland, bahkan dengan kemungkinan melibatkan militer AS. Situasi yang cukup untuk membuat pasar terus waspada.
Dengan semua drama itu, volume perdagangan hari Rabu terpantau tinggi, mencapai 17,4 miliar saham. Angka itu jelas di atas rata-rata 20 hari sebelumnya. Pasar memang tampak sibuk, penuh dengan tarik-ulur antara harapan dan kekhawatiran.
Artikel Terkait
MIND ID dan Pertamina Pacu Hilirisasi Batu Bara untuk Tekan Impor LPG
Bencana Akhir Tahun: 189 Ribu Rumah Rusak di Aceh hingga Sumatera
Menabung 100 Juta Sehari, Butuh 308 Juta Tahun untuk Mengejar Elon Musk
Rupiah Tersungkur di Awal 2026, Tertekan Dolar dan Sinyal Domestik