Pekan pertama di tahun 2026 ternyata tak membawa angin segar bagi nilai tukar rupiah. Mata uang kita justru menutup perdagangan dengan catatan merah. Pada Jumat (9/1), rupiah parkir di level Rp16.819 per dolar AS. Angka itu menunjukkan pelemahan tipis 0,13 persen dalam sehari.
Kalau dilihat dari pekan lalu, pelemahannya lebih terasa lagi. Secara akumulasi, rupiah terdepresiasi 0,55 persen sejak posisinya di Rp16.725 per USD. Tren yang kurang menggembirakan ini juga tercermin dari kurs referensi BI, Jisdor, yang ikut melemah 0,20 persen ke posisi Rp16.834.
Lalu, apa penyebabnya? Menurut Bank Indonesia, situasi global punya andil besar. Indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama (DXY) menguat ke 98,93, memberi tekanan pada mata uang negara berkembang seperti kita. Namun begitu, ada juga faktor domestik yang perlu dicermati.
Imbal hasil Surat Berharga Negara kita, terutama untuk tenor 10 tahun, justru merangkak naik. Ini mengisyaratkan adanya tekanan tersendiri di pasar obligasi dalam negeri.
Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, memberikan penjelasan rinci.
“Pada saat yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik ke level 6,05 persen," ujarnya pada Sabtu (10/1).
Tekanan itu ternyata berlanjut sampai hari terakhir perdagangan. Saat pasar dibuka di pagi hari Jumat, rupiah langsung dibuka lebih lemah di Rp16.815. Yield SBN 10 tahun pun terus merangkak, bahkan mencapai 6,15 persen.
Di sisi lain, sentimen dari Amerika justru semakin menguatkan dolar. Data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat kemarin menunjukkan tingkat pengangguran turun jadi 4,4 persen di Desember. Penurunan ini terjadi meski penambahan lapangan kerjanya 'hanya' 50.000, lebih rendah dari perkiraan para ekonom.
Nah, data inilah yang dianggap akan memberi ruang bagi The Fed. Bank sentral AS kemungkinan besar akan menahan suku bunga pada pertemuan mendatang. Sinyal ini sejalan dengan pernyataan Powell bulan lalu soal sikap 'menahan diri' para pembuat kebijakan. Imbasnya jelas: dolar AS kian menarik sebagai tujuan dana global, dan itu tentu memberatkan rupiah.
Jadi, pekan pertama 2026 diwarnai oleh kombinasi tekanan global dan sinyal domestik yang perlu diawasi. Perjalanan rupiah di pekan-pekan berikutnya tampaknya masih akan cukup berliku.
Artikel Terkait
Merck Bagikan Dividen Rp123,2 Miliar, Laba Melonjak 59 Persen Sepanjang 2025
Wall Street Menguat di Awal Perdagangan, Optimisme AI dan Harapan Damai AS-Iran Jadi Pendorong
PT Segar Kumala Indonesia Alihkan Transaksi Impor ke Yuan China untuk Tekan Dampak Pelemahan Rupiah
Citra Tubindo Bagikan Dividen 21,78 Juta Dolar AS ke Pemegang Saham