“Pada saat yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik ke level 6,05 persen," ujarnya pada Sabtu (10/1).
Tekanan itu ternyata berlanjut sampai hari terakhir perdagangan. Saat pasar dibuka di pagi hari Jumat, rupiah langsung dibuka lebih lemah di Rp16.815. Yield SBN 10 tahun pun terus merangkak, bahkan mencapai 6,15 persen.
Di sisi lain, sentimen dari Amerika justru semakin menguatkan dolar. Data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat kemarin menunjukkan tingkat pengangguran turun jadi 4,4 persen di Desember. Penurunan ini terjadi meski penambahan lapangan kerjanya 'hanya' 50.000, lebih rendah dari perkiraan para ekonom.
Nah, data inilah yang dianggap akan memberi ruang bagi The Fed. Bank sentral AS kemungkinan besar akan menahan suku bunga pada pertemuan mendatang. Sinyal ini sejalan dengan pernyataan Powell bulan lalu soal sikap 'menahan diri' para pembuat kebijakan. Imbasnya jelas: dolar AS kian menarik sebagai tujuan dana global, dan itu tentu memberatkan rupiah.
Jadi, pekan pertama 2026 diwarnai oleh kombinasi tekanan global dan sinyal domestik yang perlu diawasi. Perjalanan rupiah di pekan-pekan berikutnya tampaknya masih akan cukup berliku.
Artikel Terkait
Harga Minyak Diprediksi Tertekan hingga 2026, Baru Pulih Setelahnya
Pasar Tenaga Kerja AS Mandek, Tapi Tingkat Pengangguran Justru Menyusut
Beras untuk Rakyat 2026 Dijamin Aman, Stok Bulog Capai 3,2 Juta Ton
Iran di Ambang Perubahan: Krisis Ekonomi dan Gejolak Sosial Menggerus Fondasi Republik Islam