Medan Arus sekularisasi yang kian deras dinilai sebagai tantangan serius. Menurut Guru Besar Universitas Ibn Khaldun Bogor, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc, persoalan mendasar yang dihadapi umat Islam justru bersifat ideologis. Intinya, ada jarak yang menganga antara kehidupan sehari-hari dengan ajaran agama yang dianut.
Karena itulah, memiliki cara pandang Islami atau Islamic world view menjadi sangat krusial. "Agama jangan cuma hidup di masjid," tegasnya. Islam, dalam pandangannya, harus nyata terasa dalam keseharian mulai dari urusan sosial, ekonomi, sampai tataran pemerintahan.
Pernyataan itu disampaikan Prof Didin dalam sebuah kuliah umum di SMP IT Al Munadi, Medan, Sumatera Utara, Jumat pekan lalu.
Nah, terkait pendidikan, beliau punya catatan penting. Pendidikan Islam, menurutnya, tak boleh sekadar menjejali murid dengan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, ia harus fokus pada pembentukan akhlak mulia. Inilah pondasi untuk membangun generasi terbaik ke depannya.
"Pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang berilmu dan berakhlak. Guru memiliki tugas penting untuk membimbing dan memotivasi anak didik dalam kebaikan," ujarnya.
Dalam paparannya, tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk pribadi yang tak hanya cerdas, tapi juga punya akhlak karimah dan bermanfaat luas bagi masyarakat. Peran guru pun jadi kunci bukan cuma sebagai pengajar, melainkan juga motivator yang mengajak siswa menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya.
Artikel Terkait
Gelombang Kerusuhan Iran: IRGC Tuding Kelompok Teroris, Korban Jiwa Berjatuhan
Gempa 7,1 SR Guncang Talaud, Warga Panik Berlarian
Kiai Cholil Nafis Bela Pandji: Kritik Jenawanya Itu Seperti Dakwah
Lima Tersangka Korupsi Pajak Tutup Muka dengan Kertas Saat Digiring ke Rutan