Pintu Saudi Terbuka: Properti Kerajaan Jadi Buruan Investor Global

- Kamis, 08 Januari 2026 | 03:06 WIB
Pintu Saudi Terbuka: Properti Kerajaan Jadi Buruan Investor Global
Arab Saudi dan Ambisi Baru di Pasar Properti

Riyadh sedang berubah. Di tengah gurun, deru mesin konstruksi dan hutan crane kini jadi pemandangan biasa. Arab Saudi punya ambisi besar: mengubah pasar properti jadi motor penggerak ekonomi baru, lepas dari ketergantungan pada minyak. Caranya? Dengan membuka pintu lebar-lebar bagi perusahaan swasta, termasuk dari luar negeri.

Menurut laporan Bloomberg, perubahan paling dramatis terlihat di ibu kota. Ambisi itu diwujudkan dalam proyek-proyek raksasa, seperti Khuzam yang nilainya tembus 100 miliar riyal. Proyek semacam ini bukan cuma soal gedung mewah, tapi juga upaya menjawab persoalan klasik di banyak kota global: keterjangkauan rumah.

Ini semua adalah bagian dari visi Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Ia ingin membentuk ulang pasar properti sekaligus memancing minat investor dan pembeli asing. Tujuannya jelas: memperkuat fondasi ekonomi kerajaan.

Pengembang terbesar di sana, National Housing Co (NHC) yang didukung pemerintah, punya portofolio proyek senilai 250 miliar riyal. Mereka tak tanggung-tanggung, menghabiskan miliaran dolar untuk pembangunan besar-besaran. Tapi mereka tidak sendirian.

Perusahaan swasta lokal pun ikut berlomba membangun. Bahkan, pasar yang mulai memanas ini berhasil menarik perhatian Trump Organization, perusahaan milik keluarga mantan presiden AS. Mereka dikabarkan akan kerja sama membangun apartemen mewah.

Gebrakan besar akan resmi dimulai Januari 2026. Reformasi kebijakan akan berlaku, mengizinkan orang asing memiliki properti di Arab Saudi untuk pertama kalinya. Setelah puluhan tahun tertutup, pasar ini akhirnya terbuka.

“Undang-undang baru ini akan menjadi pengubah permainan nyata bagi pasar. Ada sejumlah besar modal yang ingin berada di sana dan Anda akan mulai melihat peluang-peluang itu terbuka,” kata Matthew Green, kepala riset Timur Tengah dan Afrika Utara di CBRE Group Inc.

Dukungan juga datang dari pelonggaran bertahap aturan bagi ekspatriat. Pemerintah berupaya menetapkan zona-zona khusus di mana warga asing diizinkan membeli.

Namun begitu, ada pekerjaan rumah yang pelik. Kerajaan harus memastikan pasokan rumah baru cukup agar warga lokal tidak terpinggirkan oleh gempuran modal asing dan harga yang melambung.

Memang, norma sosial di sini masih terbilang konservatif. Riyadh belum bisa menawarkan fasilitas gaya hidup seperti kota internasional lainnya, meski beberapa pembatasan termasuk penjualan alkohol baru saja dilonggarkan.

Di sisi lain, justru ada yang melihat ini sebagai peluang. Beberapa investor menilai pasar perumahan Saudi lebih stabil ketimbang Dubai tetangganya. Di Dubai, mayoritas penduduk adalah ekspatriat yang rentan pergi saat resesi.

Populasi Saudi yang sekitar 35 juta jiwa, dengan 34 persen di bawah usia 14 tahun, menjanjikan permintaan domestik yang kuat untuk tahun-tahun mendatang. Ini demografi yang menggiurkan bagi pengembang mana pun.

Regulasi baru ini juga diharapkan bisa menghidupkan kembali proyek-proyek pemerintah yang sempat tersendat pendanaannya, seperti Diriyah dan Qiddiya. Letaknya yang dekat pusat populasi berpotensi memberi pengembalian investasi yang cepat.

Para ahli memperkirakan, dengan berlakunya undang-undang ini, pengembang asing akan masuk melalui usaha patungan dengan perusahaan lokal. Knight Frank memproyeksikan lebih dari 600.000 rumah akan dibangun hingga 2030, dengan sekitar 110.942 unit selesai hanya di tahun 2026.

Tantangan Keterjangkauan

Tapi jalan menuju ambisi itu tidak mulus. Tantangan terbesar justru pada agenda keterjangkauan yang diusung pemerintah sendiri. Data menunjukkan, harga apartemen di Riyadh melonjak 96% sejak awal 2019, sementara harga vila naik 53%.

Merespons hal ini, Putra Mahkota telah memerintahkan pembekuan kenaikan sewa di Riyadh selama lima tahun. Ia juga berjanji menghentikan kenaikan harga properti yang dianggap tidak wajar. Solusinya? Membangun rumah-rumah baru modern dengan cepat.

Kunci dari strategi ini ada di tangan perusahaan seperti NHC. CEO-nya, Mohammed Albuty, mendapat tugas berat: menaikkan angka kepemilikan rumah menjadi 70% pada 2030. Itu artinya, ratusan ribu unit baru harus berdiri.

“Kami tidak membangun perumahan atau bangunan kotak di tengah gurun. Kami membangun kota di dalam kota. Kota ini memiliki semua layanan dan fasilitas di dekatnya,” jelas Albuty.

Untuk mewujudkannya, ia menjalin kerja sama dengan banyak mitra asing, dari Amerika Serikat hingga Mesir, dan kontraktor dari Tiongkok hingga Korea Selatan. Saat ini, lebih dari 164.000 rumah sedang dibangun, tersebar dari Jeddah hingga Dammam, termasuk di kota suci Mekah dan Madinah.

Di pihak swasta, semangat serupa terlihat. Abdulrahman Aldhyem, CEO Liwan Real Estate Development, berencana membangun proyek senilai 4,5 miliar riyal di ibu kota, lengkap dengan hotel.

Dengan aturan baru yang akan membuka kepemilikan bagi warga asing, Aldhyem tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Masa depan pasar domestiknya tiba-tiba terlihat jauh lebih cerah.

“Dulu, kami sering didekati lembaga Saudi yang ingin beli seluruh bangunan. Sekarang, situasinya berubah. Kami mulai melihat minat dari investor regional Teluk, bahkan dana dari China,” ujarnya.

Arab Saudi sedang menata ulang masa depannya. Dan semua mata tertuju pada sektor properti, yang kini menjadi ujung tombak transformasi ekonomi yang ambisius itu.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar