Regulasi baru ini juga diharapkan bisa menghidupkan kembali proyek-proyek pemerintah yang sempat tersendat pendanaannya, seperti Diriyah dan Qiddiya. Letaknya yang dekat pusat populasi berpotensi memberi pengembalian investasi yang cepat.
Para ahli memperkirakan, dengan berlakunya undang-undang ini, pengembang asing akan masuk melalui usaha patungan dengan perusahaan lokal. Knight Frank memproyeksikan lebih dari 600.000 rumah akan dibangun hingga 2030, dengan sekitar 110.942 unit selesai hanya di tahun 2026.
Tantangan Keterjangkauan
Tapi jalan menuju ambisi itu tidak mulus. Tantangan terbesar justru pada agenda keterjangkauan yang diusung pemerintah sendiri. Data menunjukkan, harga apartemen di Riyadh melonjak 96% sejak awal 2019, sementara harga vila naik 53%.
Merespons hal ini, Putra Mahkota telah memerintahkan pembekuan kenaikan sewa di Riyadh selama lima tahun. Ia juga berjanji menghentikan kenaikan harga properti yang dianggap tidak wajar. Solusinya? Membangun rumah-rumah baru modern dengan cepat.
Kunci dari strategi ini ada di tangan perusahaan seperti NHC. CEO-nya, Mohammed Albuty, mendapat tugas berat: menaikkan angka kepemilikan rumah menjadi 70% pada 2030. Itu artinya, ratusan ribu unit baru harus berdiri.
“Kami tidak membangun perumahan atau bangunan kotak di tengah gurun. Kami membangun kota di dalam kota. Kota ini memiliki semua layanan dan fasilitas di dekatnya,” jelas Albuty.
Untuk mewujudkannya, ia menjalin kerja sama dengan banyak mitra asing, dari Amerika Serikat hingga Mesir, dan kontraktor dari Tiongkok hingga Korea Selatan. Saat ini, lebih dari 164.000 rumah sedang dibangun, tersebar dari Jeddah hingga Dammam, termasuk di kota suci Mekah dan Madinah.
Di pihak swasta, semangat serupa terlihat. Abdulrahman Aldhyem, CEO Liwan Real Estate Development, berencana membangun proyek senilai 4,5 miliar riyal di ibu kota, lengkap dengan hotel.
Dengan aturan baru yang akan membuka kepemilikan bagi warga asing, Aldhyem tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Masa depan pasar domestiknya tiba-tiba terlihat jauh lebih cerah.
“Dulu, kami sering didekati lembaga Saudi yang ingin beli seluruh bangunan. Sekarang, situasinya berubah. Kami mulai melihat minat dari investor regional Teluk, bahkan dana dari China,” ujarnya.
Arab Saudi sedang menata ulang masa depannya. Dan semua mata tertuju pada sektor properti, yang kini menjadi ujung tombak transformasi ekonomi yang ambisius itu.
Artikel Terkait
Amman Mineral Pacu Eksplorasi di Sumbawa, Siapkan Game Changer Baru
Pefindo Beri Peringkat IdBBB+ untuk SOLA, Prospek Stabil dengan Catatan Diversifikasi
Harga Emas Antam Melonjak Rp 25.000 per Gram, Pajak Pembeli Akhir Dihapus
RISE Siap Bagikan Bonus Saham Rp525 Miliar pada 2026