Meski begitu, beberapa analis mencoba melihat ini dengan kepala dingin. Mereka mencatat, dalam kondisi pasar global yang masih kelebihan pasokan saat ini, gangguan ekspor dari Venezuela kemungkinan besar tidak akan berdampak drastis dalam waktu dekat. Trump sendiri menegaskan bahwa embargo terhadap ekspor minyak Venezuela akan tetap diberlakukan sepenuhnya untuk sementara.
Lalu, apa yang spesial dari minyak Venezuela? Minyak mentah mereka termasuk jenis berat dan asam, dengan kandungan sulfur yang tinggi. Karakteristik ini membuatnya cocok untuk produksi diesel dan bahan bakar berat lainnya. Memang, margin keuntungannya lebih rendah dibanding minyak ringan dari Timur Tengah, tapi ada nilai strategis lain.
"Jenis minyak ini sangat sesuai dengan konfigurasi kilang di kawasan Pantai Teluk AS, yang secara historis dirancang untuk mengolah minyak berat seperti ini,” ujar Ahmad Assiri, seorang analis riset di Pepperstone.
Posisi Chevron di Venezuela saat ini yang diizinkan secara khusus oleh pemerintah AS menempatkannya di posisi yang sangat menguntungkan. Mereka bisa jadi pihak pertama yang menuai manfaat jika kebijakan benar-benar berubah. Di sisi lain, perusahaan penyulingan juga punya peluang bagus. Mereka bisa diuntungkan dengan meningkatnya pasokan minyak berat yang lokasinya jauh lebih dekat ke AS, dibandingkan harus mendatangkannya dari belahan dunia lain.
Jadi, meski situasi politiknya masih gelap, pasar saham sudah mulai menyorotkan lampu terangnya. Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya dari Gedung Putih.
Artikel Terkait
Analis Proyeksikan Harga CPO Naik Didorong Kebijakan B50 Mulai 2026
IHSG Melonjak 3,39%, Analis Ingatkan Potensi Koreksi Masih Mengintai
Wall Street Melonjak Signifikan Usai AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global