IHSG Melonjak di Awal 2026, Analis Proyeksikan Sentimen Bullish hingga Tembus 10.500

- Minggu, 04 Januari 2026 | 04:06 WIB
IHSG Melonjak di Awal 2026, Analis Proyeksikan Sentimen Bullish hingga Tembus 10.500

Tahun 2026 buat pasar saham Indonesia ternyata diawali dengan sinyal positif. IHSG, barometer utama bursa kita, menguat di perdagangan perdana. Ini bikin banyak analis optimis, reli bisa berlanjut sepanjang tahun. Bahkan, ada proyeksi yang bilang indeks berpeluang tembus 10.500. Cukup ambisius, ya?

Fakta di lapangan memang mendukung. Di pembukaan Jumat (2/1) lalu, IHSG langsung naik 0,43 persen ke level 8.684. Sepanjang hari, sentimen beli masih dominan. Terbukti, saat bel tanda tutup bursa berbunyi, indeks ditutup lebih tinggi lagi dengan kenaikan 1,17 persen ke posisi 8.748. Dari data RTI, saham yang menguat jauh lebih banyak ketimbang yang melemah: 350 berbanding 104. Sisanya, 228 saham, cuma diam di tempat.

Nafan Aji Gusta, analis senior dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, termasuk yang cukup bullish. Dia punya angka spesifik untuk tahun ini.

"Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG pada 2026 berada pada 10.500," ucap Nafan, Minggu (4/1).

Menurutnya, beberapa sektor punya potensi bagus buat bersinar. Dia menyebut perbankan, energi, dan telekomunikasi. Tidak cuma itu, dia juga merinci sejumlah kode saham yang patut diawasi, seperti ADRO, BBCA, BBRI, BMRI, hingga UNVR dan WIFI.

Namun begitu, penguatan di awal tahun ini tentu ada penyebabnya. Desmond Wira, seorang pengamat pasar modal, punya pandangan lain. Menurut dia, faktor teknikal dan sentimen musiman berperan besar. Aksi window dressing dari para pelaku pasar masih terasa pengaruhnya di perdagangan perdana tahun baru.

"Sentimen window dressing. Penggeraknya saham-saham terutama mining dan perkapalan," jelas Desmond.

Soal wacana IHSG tembus 10.000 seperti yang pernah disinggung Menteri Keuangan, Desmond bilang peluang itu tetap ada. Meski begitu, jalan ke sana sangat bergantung pada saham-saham besar. Pergerakan indeks, kata dia, masih ditentukan oleh saham-saham konglomerasi.

"Mungkin saja. Tidak ada yang tidak mungkin di pasar saham. Selama ini IHSG digerakkan oleh saham-saham konglo yang digoreng. Bisa saja saham-saham tersebut digoreng terus sampai membuat IHSG 10.000. Bisa saja saham blue chip lain seperti banking yang tiba-tiba bergerak naik, probabilitas pasti ada," paparnya lebih lanjut.

Ke depan, sektor-sektor tertentu diperkirakan masih akan jadi motor penggerak. Desmond melihat saham berbasis komoditas dan konglomerasi masih punya peluang cetak kinerja bagus.

"Kemungkinan masih saham-saham konglo terutama mining, perkapalan dan komoditas lainnya," katanya menutup pembicaraan.

Jadi, awal yang baik. Tapi perjalanan sepanjang 2026 tentu masih panjang. Semua mata sekarang tertuju pada apakah optimisme ini bisa bertahan, atau justru hanya euforia sesaat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar