Namun, papar Ali Kuncoro, ketika pracangan TPID dinilai belum mampu membendung kenaikan harga, maka Pemkot Mojokerto akan menggelar operasi pasar. Langkah tersebut bertujuan mengintervensi agar harga dan inflasi tetap terkendali.
Dan, sebut Pj wali kota, berdasarkan hasil rapat koordinasi (rakor) inflasi dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Selasa (16/1), komoditas cabai masih menjadi momok karena menjadi penyumbang inflasi tertinggi.
”Yang menjadi penyebab inflasi tertinggi cabai. Cabai ini permasalahannya dari tahun ke tahun. Karena masa ketahanannya pendek,” tandasnya.
Per kemarin, harga rata-rata cabai merah besar di pasar tradisional di Kota Mojokerto masih bergerak naik dari Rp 53.500 menjadi Rp 56.000 per kilogram (kg).
Demikian dengan jenis cabai rawit merah juga naik 5,8 persen dari Rp 42.500 menjadi Rp 45.000 per kg. Sementara yang masih stagnan cabai merah keriting dengan harga Rp 55 ribu per kg.
Selain intervensi melalui pracangan TPID dan operasi pasar, Ali Kuncoro juga mendorong masyarakat untuk melakukan penanaman secara mandiri untuk membantu mengendalikan harga cabai.
”Kita harapkan melalui program PKK, di rumah-rumah bisa menanam sendiri untuk mengatasi masalah cabai,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Diskopukmperindag Kota Mojokerto Ani Wijaya menambahkan, dengan diresmikannya tiga pracangan TPID, maka total sudah ada 10 titik toko yang menyediakan sembako murah.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: radarmojokerto.jawapos.com
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak