JAKARTA Nama David Baszucki kini identik dengan kesuksesan fenomenal. CEO Roblox itu adalah seorang miliarder teknologi yang kekayaannya mencapai miliaran dolar. Tapi, jalan menuju puncak itu sama sekali tidak mulus. Bayangkan, sebelum memimpin kerajaan game senilai Rp1.000 triliun, pria ini pernah membersihkan kaca jendela untuk mencari nafkah.
Lulus dari Stanford tahun 1985, masa depannya justru terasa suram. Prospek karirnya? Bisa dibilang nol besar. Meski kampusnya terkenal sebagai tempat lahirnya startup-startup unicorn, Baszucki justru mentok. Resume-nya hampir kosong, dan pekerjaan impian tak kunjung datang. Pengalaman kerja formalnya cuma satu: jadi petugas pembersih kaca bersama sang adik, itu pun hanya untuk satu musim panas.
"Saya ingat masa-masa sulit setelah lulus kuliah," katanya, mengenang. "Saya berusaha mencari tahu, sebenarnya mau ngapain saya?"
Di titik terendah itulah, pelajaran paling berharga justru datang. Dia mengandalkan nasihat mentor, profesor, dan teman-temannya. Ironisnya, semua saran itu malah sering membuat keadaan runyam. Dari pengalaman pahit itu, dia akhirnya menyadari sesuatu. Nasihat terbaik yang pernah ia terima justru adalah untuk berhenti mendengarkan semua nasihat. Atau lebih tepatnya, berhenti terlalu memusingkan pendapat orang lain.
"Sebagian besar perkembangan saya adalah mencoba, dari waktu ke waktu, mengabaikan nasihat yang telah diberikan kepada saya," ucap Baszucki.
Artikel Terkait
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG
Menkeu Purbaya Bicara Beban Jabatan dan Rencana Bantu Pedagang Terbelit Utang
Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi