Ia berharap seminar ini dapat mengurai masalah serta meminta solusi kepada pemerintah apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan industri tekstil tersebut.
"Utilisasi (pemanfaatan) industri tekstil sekarang di bawah 50 persen, normalnya 80 persen, sekarang drop sampai 40 persen," terangnya.
Bagi Farhan ini menjadi problem tersendiri bagi pelaku industri tekstil sembari meminta pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang tepat untuk menyelamatkan industri tersebut.
Ia menjelaskan salah satu yang dilakukan ialah dengan mengajukan anti dumping sebagai alat hukuman para eksportir di luar negeri yang melakukan dumping.
"Dumping adalah justment harga supaya lebih murah, misalnya dari Tiongkok memberikan fasilitas terkait subsidi, kredit bank dan sebagainya. Itu yang akhirnya membuat harga di Tiongkok lebih murah," ujarnya.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: suaramerdeka.com
Artikel Terkait
BRI Salurkan Kredit Rp4 Triliun ke Dua Anak Usaha Golden Energy Mines
GEMA Gelar Buyback Saham Senilai Rp2 Miliar hingga 2026
Anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026 Belum Dipangkas Pemerintah
IHSG Anjlok 1,61%, Sentimen Jual Dominasi Pasar