Harga saham Surge (WIFI) terjun bebas akhir pekan lalu, anjlok 15 persen ke level Rp3.620. Reaksi pasar ini langsung terasa setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal III-2025 yang mengecewakan. Meski begitu, kalau kita lihat dari awal tahun, saham ini masih menunjukkan performa luar biasa dengan kenaikan fantastis hingga 783 persen.
Laporan itu menunjukkan laba bersih perseroan merosot tajam. Tercatat hanya Rp32 miliar, turun 78 persen dibanding kuartal sebelumnya dan 48 persen secara tahunan. Tekanan profitabilitas ini memang sedang menghantui Surge, yang saat ini tengah gencar-gencarnya membangun jaringan internet di berbagai penjuru Indonesia.
Yang menarik, penurunan laba ini justru terjadi di saat pendapatan perusahaan malah melonjak. Pada kuartal yang sama, pendapatan Surge berhasil menembus angka Rp500 miliar. Akumulasinya sejak Januari 2025 bahkan sudah menyentuh Rp1 triliun. Lalu, di mana masalahnya?
Menurut Direktur Surge, Shannedy Ong, jawabannya ada pada beban bunga yang membengkak.
Lonjakan beban ini tak lepas dari strategi pendanaan mereka. Surge menerbitkan obligasi untuk membiayai ekspansi besar-besaran ini. Hasilnya, posisi utang obligasi mereka melonjak dari sebelumnya Rp600 miliar menjadi Rp2,5 triliun per 30 September 2025. Di sisi lain, aset perusahaan juga ikut melesat ke angka Rp12,5 triliun.
Artikel Terkait
Guncangan di OJK: Ketua dan Dua Pejabat Tinggi Mundur Usai Gejolak Pasar
Petinggi OJK Mundur, Tanggung Jawab Moral di Balik Gejolak Pasar Modal
Mahendra Siregar Pamit dari Pucuk OJK, Tanggung Jawab Moral Jadi Alasan
Tiga Pucuk Pimpinan OJK Serahkan Surat Pengunduran Diri