Warga Serpong Pilih Bersepeda 500 Km untuk Mudik ke Palembang

- Rabu, 18 Maret 2026 | 01:00 WIB
Warga Serpong Pilih Bersepeda 500 Km untuk Mudik ke Palembang

Bayangkan mudik Lebaran. Pasti yang terlintas adalah kemacetan panjang, antrean kendaraan yang tak berujung, dan suasana terminal yang riuh. Tapi tidak bagi Verri Sanovri. Bagi pria 50 tahun asal Serpong ini, jalan menuju kampung halamannya di Palembang justru dimulai dengan sebuah kayuhan pedal.

Selasa malam lalu, di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Verri terlihat memeriksa sepeda kesayangannya. Rupanya, ini sudah jadi ritual tahunannya sejak 2018. Sementara orang lain berdesakan di bus atau menahan lelah menyetir, dia memilih mengandalkan tenaga sendiri.

"Dari tahun 2018 aman terus, nggak ada kendala berarti," ujar Verri.

"Makanya saya konsisten. Satu hal, saya selalu hindari bersepeda malam hari," tambahnya.

Perjalanan hari itu dimulai pukul sembilan pagi dari Serpong. Dengan sepeda jenis Surly yang sudah dicek kondisinya, dia meluncur dan tiba di pelabuhan sekitar jam delapan malam. Soal persiapan fisik? Dia cuma tersenyum. Bersepeda sudah jadi bagian dari kesehariannya, jadi tak perlu latihan khusus.

Strateginya sederhana tapi efektif. Dia naik kapal tengah malam agar bisa istirahat selama penyeberangan. "Begitu sampai Lampung kan sudah Subuh, langsung bisa lanjut lagi," jelasnya.

Rutenya tentu tidak mudah. Terik matahari, tanjakan, hingga melintasi kawasan hutan jadi tantangan sehari-hari. Tapi Verri justru menikmatinya. Baginya, di situlah letak petualangannya. Sepeda itu adalah hiburan utamanya.

Dia pun datang lengkap dengan perlengkapan bikepacking. Tas sepedanya memuat tenda, sleeping bag, kompor portabel, bahkan alat untuk menyeduh kopi. Persiapan yang matang untuk sebuah perjalanan mandiri.

"Satu-satunya hiburan ya naik sepeda ini," tuturnya sambil tertawa.

"Kalau istirahat biasanya cari posko mudik. Orang-orang di jalan juga baik, tadi aja di Cikupa ada yang kasih kopi dingin," kenangnya.

Tahun ini agak spesial karena pertama kalinya dia lewat Pelabuhan Ciwandan, mengikuti pengalihan arus mudik untuk roda dua. Dia memperkirakan akan tiba di Palembang tepat pada malam takbiran, tanggal 20 April.

Pilihannya ini sempat dipertanyakan keluarganya. Tapi Verri teguh. Selain lebih hemat sekitar Rp 28.500 lebih murah dari tiket transportasi umum ini soal dedikasi pada hobi yang dicintainya.

"Orang tua dan istri sering tanya, 'Ngapain susah-susah naik sepeda?'. Ya karena ini hobi saya. Jalani aja," ucapnya polos.

Setelah merayakan Idul Fitri bersama orang tua, rencananya Verri akan kembali ke Serpong dengan cara yang sama. Kembali mengayuh, menempuh ratusan kilometer aspal Sumatera. Bagi sebagian orang mungkin melelahkan, tapi bagi Verri, itulah cara mudik yang paling bermakna.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler