Laporan MPOB itu sendiri sebenarnya campur aduk. Di satu sisi stok melonjak, tapi di sisi lain, produksi CPO pada November justru turun 5,3 persen menjadi 1,94 juta ton. Yang lebih mencolok, angka ekspor anjlok cukup tajam, turun 28,1 persen ke level 1,21 juta ton. Penurunan ekspor inilah yang diduga jadi penyebab utama penumpukan stok.
Sementara itu, dari China salah satu importir terbesar datang sinyal yang perlu dicermati. Inflasi konsumen di sana naik ke level tertinggi dalam 21 bulan pada November. Namun, harga produsen justru masih terus turun. Kondisi yang agak paradoks ini bisa mempengaruhi daya beli dan kebijakan impor ke depannya.
Melihat kondisi ini, Phillip Capital memberikan proyeksi teknisnya.
Mereka memperkirakan level support untuk CPO berada di MYR 3.900 per ton. Sementara level resistansi atau penghalang kenaikan ada di sekitar MYR 4.300 per ton.
Artikel Terkait
Pemerintah dan Pertamina Pastikan Pasokan Energi Aman Jelang Lebaran di Makassar
BPH Migas Segel SPBU di Jember Diduga Salurkan BBM Subsidi Ilegal
Harga CPO Menguat Pekan Kedua Berkat Sentimen Positif Pasar China
Saham Raksasa dan Perbankan Jadi Pemberat Utama Anjloknya IHSG