Emosi vs Kalkulator: Mengapa Keputusan Finansial Kita Lebih Sering Dikendalikan Perasaan

- Rabu, 10 Desember 2025 | 07:06 WIB
Emosi vs Kalkulator: Mengapa Keputusan Finansial Kita Lebih Sering Dikendalikan Perasaan

Kita sering mengira diri sebagai makhluk rasional, terutama saat berurusan dengan uang. Logika dan kalkulasi dingin, begitu pikir kita, yang mengendalikan setiap keputusan. Tapi coba ingat-ingat lagi: kapan terakhir kali Anda membeli sesuatu hanya karena takut kehabisan? Atau bertahan pada investasi yang merugi, berharap ia akan bangkit kembali? Di sinilah ilusi itu runtuh. Studi behavioural finance justru menunjukkan, lebih sering daripada tidak, emosi dan persepsi subjektif kitalah yang memegang kendali bukan logika ekonomi yang dingin.

Lihat saja budaya belanja online sekarang. Saat promo besar atau flash sale tengah malam tiba, apa yang sebenarnya terjadi? Rasa takut ketinggalan (FOMO) sering jadi pendorong utama. Bukan karena butuh, tapi karena khawatir orang lain dapat sesuatu yang kita lewatkan. Logika? Ia sudah minggat jauh-jauh, digantikan oleh dorongan emosional yang meluap sesaat.

Di sisi lain, ada kecenderungan lain yang tak kalah kuat: confirmation bias. Singkatnya, kita cenderung mencari dan percaya pada informasi yang mendukung keinginan kita sendiri. Mau beli gadget mahal atau pilih saham tertentu? Alih-alih mencari tinjauan yang berimbang, kita malah melahap habis ulasan positif yang membenarkan niat awal. Sementara itu, peringatan atau kritik yang justru mungkin berguna, dengan mudah kita abaikan. Akibatnya, keputusan yang diambil bukan lagi keputusan objektif, melainkan sekadar pembenaran belaka.

Perilaku ikut-ikutan atau herding behaviour semakin memperparah keadaan. Ketika suatu tren investasi tiba-tiba viral, gelombang orang ramai-ramai ikut terjun. Padahal, banyak yang belum paham betul risikonya atau bahkan cara kerjanya. Keputusan finansial pun berubah jadi reaksi sosial. Kita membeli bukan karena paham, tapi karena melihat orang lain melakukannya. Fenomena seperti ini, sayangnya, sering jadi pemicu gelembung spekulatif yang berujung penyesalan.

Nah, ada satu hal lagi yang mungkin paling mengikat kita: rasa takut rugi atau loss aversion. Perasaan ini begitu kuat, bahkan lebih dominan daripada rasa senang saat mendapat keuntungan. Ini yang membuat orang bertahan pada aset yang nilainya terus merosot, berharap ia akan kembali ke harga semula. Padahal, dalam banyak kasus, penurunan itu bersifat fundamental. Ketakutan untuk mengakui kerugian justru sering membuat kerugiannya semakin dalam.

Namun begitu, memahami semua pola ini bukan berarti kita harus membuang semua emosi. Itu mustahil. Emosi adalah bagian dari menjadi manusia. Hal yang lebih realistis dan penting adalah menyadari pengaruh besarnya. Dengan kesadaran itu, kita bisa mulai mengelolanya.

Beberapa langkah sederhana bisa membantu. Misalnya, membuat perencanaan anggaran yang jelas. Atau memberi jeda, hitung sampai sepuluh, sebelum melakukan transaksi besar. Hindari juga mengambil keputusan penting saat emosi sedang memuncak, entah itu senang berlebihan atau sedih yang mendalam.

Pada intinya, behavioural finance mengajarkan satu hal penting: mengelola keuangan bukan cuma soal angka dan strategi. Ia juga tentang memahami diri sendiri, mengenali bias dan kecenderungan psikologis yang diam-diam memengaruhi kita. Dengan pengenalan itu, peluang untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang jadi lebih besar. Hubungan yang lebih terencana, lebih tenang, dan tidak mudah terseret arus emosi sesaat yang menipu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar